Kamis, 15 September 2016

[ Kaidah ] Jarh Wa Ta'dil

Asy-Syaikh Rabi hafizhahullah berkata di dalam Ta’liq kitab Haadil Arwaah karya Ibnul Qayyim rahimahullah kaset no. 2:

“Muhammad bin Jarir berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Mukhtar, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ka’ab bin Ujrah, dari Nabi shallallahu alaihi was sallam tentang firman Allah Ta’ala:

لِلَّذِيْنَ أَحْسَنُوْا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada balasan kebaikan (jannah) dan tambahan (melihat wajah Allah).” (QS. Yunus: 26)

Isnad ini padanya terdapat perawi yang bernama Ibnu Humaid yang diperbincangkan. Dia adalah Muhammad bin Humaid Ar-Raazy. Para ulama ahli hadits memperbincangkan keadaannya. Al-Imam Ahmad mentazkiyahnya, namun selain beliau ada pihak yang mengkritiknya, menilainya lemah dan sangat melemahkannya. Diantara yang menilainya lemah adalah Ibnu Khuzaimah rahimahullah. Beliau pernah ditanya: “Sesungguhnya Ahmad (bin Hanbal) menta’dil atau mentazkiyahnya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab: “Seandainya Ahmad mengetahui seperti yang kami ketahui, tentu beliau tidak akan mentazkiyahnya.”

Ini adalah manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah dan Ahli Hadits. Yaitu bahwasanya siapa saja yang mengatahui maka dia merupakan hujjah atas orang yang tidak mengetahui. Juga bahwasanya jarh didahulukan atas ta’dil dan bahwasanya tidak ada aib dan kekurangan pada seorang imam yang mana saja yang dia mentazkiyah seseorang, lalu datang ulama lain yang semisal dengannya atau di bawahnya yang berdasarkan hujjah dan dalil menetapkan celaan pada orang yang ditazkiyah oleh imam tadi.

Tidak ada celaan dan dosa terhadap imam ini dan hal itu bukan sebagai bentuk penghinaan atau dikatakan bahwa dia orang yang menyimpang atau ucapan negatif lainnya.

Kenapa demikian?! Karena para ulama tersebut mereka berputar mengikuti ke mana hujjah dan dalil ada. Mereka tidak menginginkan kecuali kebenaran dan tidak menginginkan selain wajah Allah Azza wa Jalla. Mereka tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Tidak ada yang kemudian membantah dengan mengatakan: “Demi Allah, si fulan ini telah ditazkiyah oleh Ahmad. Jadi kenapa saya harus menjarhnya. Demi Allah, ini merupakan kesalahan.” Mereka tidak mengucapkan perkataan semacam ini, bahkan mereka berani dengan terang-terangan menampakkan kebenaran dan para ulama Ahlus Sunnah semuanya menerima dengan lapang dada dan tidak menganggap hal itu sebagai dosa atau kesalahan sama sekali.

Namun sekarang kita berada di masa yang banyak kegelapan dan kebodohan yang parah yang ahli bid’ah dan para pengekor hawa nasu telah melemparkan penilaian yang buruk terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jadi Al-Imam Ahmad adalah imam Ahlus Sunnah. Namun tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa Ibnu Warih dan Ibnu Khuzaimah serta ulama lain yang menjarh Muhammad bin Humaid yang berbeda pendapat dengan beliau berarti mereka merendahkan Al-Imam Ahmad atau suka menyelisihi beliau.

Tidak ada yang mengatakan demikian, bahkan mereka semua menerima. Jadi engkau akan menjumpai murid-murid atau shahabat Ahmad dan Asy-Syafi’iy jika ada seseorang yang dipuji oleh Ahmad dan dijarh oleh ulama lain sementara hujjah ada pada selain beliau tersebut, mereka menerima jarh pihak yang memiliki hujjah.
Demikian juga murid-murid Asy-Syafi’iy. Ketika beliau mentazkiyah Ibrahim bin Abi Yahya namun ulama selain beliau menjarhnya, mereka pun menerima jarh ini dan tidak mengatakan: “Demi Allah, beliau adalah imam kami dan demi Allah kami akan fanatik membela pendapat beliau, karena beliau telah mentazkiyah si fulan. Dan dengan fanatik buta ini kami akan menetapkan kemuliaan orang yang dijarh ini dan akan kami bela dengan alasan bahwa imam kami adalah hujjah dan dalil.” Mereka sangat jauh dari mengucapkan perkataan semacam ini.

Demikianlah mereka terdidik di atas manhaj yang baik dan penuh berkah. Dan wajib untuk meninggalkan sikap fanatik kepada siapapun orangnya, kecuali Muhammad shallallahu alaihi was sallam karena beliaulah orang yang tidak boleh dikritik dan siapapun tidak boleh menyelisihi beliau. Karena Muhammad shallallahu alaihi was sallam selalu bersama kebenaran di mana pun kebenaran itu ada.

Demikian juga para shahabat Muhammad shallallahu alaihi was sallam selalu mengikuti kebenaran ke manapun kebenaran itu berada. Adapun selain mereka maka setiap orang bisa diambil dan bisa ditolak ucapannya.”
–selesai perkataan Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah–

http://simp.ly/publish/Skf45L

-----------------------

Copyright : 1437-2016 http:// salafykolaka.net

[ Ulama ] Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali Hafidzhullah

Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali Hafidzhullah

Di antara karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada segenap hamba-Nya, senantiasa ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang tanggap terhadap kebatilan yang terdapat pada perkataan ahlul batil dan siap siaga untuk membantahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ – وَلِلَّهِ الْحَمْدُ – لَمْ يَزَلْ فِيهَا مَنْ يَتَفَطَّنُ لِمَا فِي كَلَامِ أَهْلِ الْبَاطِلِ مِنْ الْبَاطِلِ وَيَرُدُّهُ.

“Bahwasanya umat ini –walillahil hamdu– senantiasa ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang tanggap terhadap kebatilan yang terdapat pada perkataan ahlul batil dan membantahnya.” (Majmu’ Fatawa 9/233)

Di antara orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah untuk senantiasa tanggap terhadap kebatilan yang terdapat pada perkataan ahlul batil dan siap siaga untuk membantahnya adalah asy-Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdullah as-Subayyil –imam al-Masjidil Haram Makkah-rahimahullah berkata,

فإن فضيلة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي الأستاذ بالجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة من العلماء المعروفين، والدعاة المشهورين في الأوساط العلمية في المملكة العربية السعودية، وقد عرف بتمكنه في علوم السنة وغيرها من العلوم الشرعية، ولفضيلته جهود كبيرة في الدعوة إلى الله سبحانه وتعالى على منهج السلف الصالح، والدفاع عن العقيدة السلفية الصحيحة، والرد على المخالف لها من أهل البدع والأهواء بما يذكر لفضيلته فيشكر.

“Sesungguhnya fadhilatus syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali seorang Profesor di Universitas Islam Madinah tergolong ‘ulama yang terkenal dan da’i yang kesohor dalam ruang lingkup keilmuan di Kerajaan Saudi Arabia. Sungguh beliau telah dikenal akan kemapanannya di bidang ilmu as-Sunnah (hadits) dan selainnya dari berbagai disiplin ilmu agama. Beliau mempunyai jasa yang besar dalam hal dakwah di jalan Allah yang tegak di atas manhaj as-Salafush Shalih, (sebagaimana pula) mempunyai jasa besar yang patut disyukuri dalam membela aqidah salafiyah yang benar dan membantah orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid’ah wal ahwa’.”

Beliau menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk (huda) dan bersabar atas segala gangguan yang datang dari mereka. Betapa banyak orang yang tersesat tak tahu jalan yang beliau tunjuki.

Beliau membela Kitabullah dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstrimis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil.

Beliau selalu siap siaga menghadang orang-orang yang mengibarkan bendara-bendera bid’ah dan menebarkan kesesatan di tengah umat. Betapa besar jasa beliau bagi umat manusia, namun betapa jelek sikap manusia terhadap beliau.

Hal ini mengingatkan kita akan perkataan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam muqadimah kitab beliau Ar-Rad ala az-Zanadiqah wa al-Jahmiyyah,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي كُلِّ زَمَانِ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، يَدْعُونَ مَنْ ضَلَّ إِلَى الْهُدَى وَيَصْبِرُونَ مِنْهُمْ عَلَى الْأَذَى. يُحْيُونَ بِكِتَابِ اللهِ الْمَوْتَى وَيُبَصِّرُونَ بِنُورِ اللهِ أَهْلَ الْعَمَى. فَكَمْ مِنْ قَتِيلٍ لِإِبْلِيسَ قَدْ أَحْيَوْهُ، وَكَمْ مِنْ ضَالٍّ تَائِهٍ قَدْ هَدَوْهُ. فَمَا أَحْسَنَ أَثَرَهُمْ عَلَى النَّاسِ وَأَقْبَحَ أَثَرَ النَّاسِ عَلَيْهِمْ. يَنْفُونَ عَنْ كِتَابِ اللهِ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ، اَلَّذِينَ عَقَدُوا أَلْوِيَةَ الْبِدْعَةِ وَأَطْلَقُوا عِقَالَ الْفِتْنَةِ. فَهُمْ مُخْتَلِفُونَ فِي الْكِتَابِ، مُخَالِفُونَ لِلْكِتَابِ، مُجْمِعُونَ عَلَى مُفَارَقَةِ الْكِتَابِ، يَقُولُونَ عَلَى اللهِ وَفِي اللهِ وَفِي كِتَابِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، يَتَكَلَّمُونَ بِالْمُتَشَابِهِ مِنَ الْكَلَامِ، وَيَخْدَعُونَ جُهَّالَ النَّاسِ بِمَا يُشَبَّهُونَ عَلَيْهِمْ، فَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ فِتَنِ الْمُضِلِّينَ.

“Segala pujian kesempurnaan hanya milik Allah, yang telah menjadikan di setiap masa fatrah (kekosongan) dari para rasul sisa-sisa manusia dari kalangan ahli ilmu (ulama’), menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk (huda) dan bersabar atas segala gangguan yang datang dari mereka. Mereka menghidupkan orang-orang yang mati (hatinya) dengan Kitabullah dan menerangi orang-orang yang buta (mata hatinya) dengan cahaya (ilmu) yang datang dari Allah. Betapa banyak Korban iblis yang mereka hidupkan kembali,  betapa banyak pula orang yang tersesat tak tahu jalan yang mereka tunjuki. Betapa besar jasa mereka bagi umat manusia, namun betapa jelek sikap manusia terhadap mereka. Mereka membela Kitabullah dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstrimis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil, yaitu orang-orang yang mengibarkan bendara-bendera bid’ah dan melepas ikatan (menebarkan) fitnah. Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah, menyelisihinya, dan sepakat untuk menjauhinya. Mereka berbicara atas nama Allah, tentang Allah, dan tentang Kitabullah dengan tanpa ilmu. Mereka berkata dengan perkataan yang mutasyabih (samar) dan menipu orang-orang jahil (bodoh) dengan hal-hal yang menjadi syubhat bagi mereka. Maka kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah (yang ditebarkan oleh) orang-orang yang menyesatkan itu.”

♦ Nama dan Nasab Beliau

Beliau adalah asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Hamil Rayati al-Jarh wa at-Ta’dil Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi bin Muhammad Umair al-Madkhali. Al-Madkhali disandarkan kepada Kabilah al-Madakhilah, salah satu kabilah yang masyhur di wilayah Jazan yang terletak di bagian selatan Kerajaan Saudi Arabia. Al-Madakhilah termasuk salah satu dari kabilah-kabilah Bani Syubail, dan Syubail adalah keturunan Yasyjub ibn Qahthan.

♦ Tempat dan Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama al-Jaradiyah. Desa ini terletak + 3 KM di sebelah barat Kota Shamithah, dan sekarang telah masuk wilayah Shamithah). Beliau dilahirkan di penghujung tahun 1351 H (83 tahun yang lalu). Satu setengah tahun setelah kelahiran beliau, sang ayah meninggal dunia. Sehingga beliau tumbuh dan berkembang sebagai anak yatim, di bawah asuhan seorang ibu yang baik lagi mulia. Sang ibu memperhatikan beliau dengan sebenar-benarnya, mendidik beliau dengan pendidikan yang bagus, menanamkan kepada beliau akhlak yang mulia seperti kejujuran dan menjaga amanat. Sebagaimana pula senantiasa menghasung beliau untuk menunaikan shalat dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Semua itu berjalan dengan pengawasan paman beliau dari pihak ayah.

♦ Latar Belakang Pendidikan Beliau

1.) Ketika memasuki usia delapan tahun, beliau masuk di halaqah taklim di desa tempat beliau tinggal. Di antara bidang studi yang beliau pelajari adalah khath (menulis arab) dan qira’atul Qur’an. Guru beliau di bidang studi khath (menulis arab) adalah asy-Syaikh Syaiban al-‘Arisyi, al-Qadhi Ahmad bin Muhammad Jabir al-Madkhali, dan Muhammad bin Husain Makki. Sedangkan guru beliau di bidang qira’atul Qur’an adalah asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir al-Madkhali.

2.) Setelah itu beliau belajar di al-Madrasah as-Salafiyyah di Kota Shamithah. Di antara guru beliau adalah asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir al-Madkhali yang mengajar bidang studi tauhid dan tajwid. Demikian pula asy-Syaikh al-‘Alim al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki, seorang ulama’ kesohor murid senior asy-Syaikh al-Qar’awi rahimahullah yang mengajar kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nazharkarya al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

3.) Pada tahun 1376 H (1955 M), beliau masuk di al-Ma’had al-‘Ilmi di Kota Shamithah. Di ma’had tersebut, beliau belajar dari sejumlah ulama’ terkemuka, antara lain;

–          Asy-Syaikh al-‘Allamah Hafizh bin Ahmad al-Hakami rahimahullah.

–          Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Hakami rahimahullah.

–          Asy-Syaikh al-‘Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah.

–          Asy-Syaikh al-‘Allamah Dr. Muhammad Aman bin ‘Ali al-Jami rahimahullah.

–          Asy-Syaikh al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi rahimahullah.

Pada penghujung tahun 1380 H, beliau lulus darinya.

4.) Pada awal tahun 1381 H (1960 M), beliau masuk di Fakultas Syari’ah Universitas Muhammad bin Su’ud (Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud) di Kota Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Saudi Arabia. Setelah berjalan sebulan, sebulan setengah atau dua bulan, beliau mendengar bahwa di Kota Madinah berdiri Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) yang direktori oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah -Mufti ‘Amm Kerajaan Saudi Arabia saat itu- dengan Wakil Rektor asy-Syaikh al-‘Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Akhirnya beliau memutuskan pindah ke Kota Madinah dan belajar di Fakultas Syari’ah Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah). Setelah menempuh masa belajar empat tahun tepatnya hingga tahun 1384 H (1963 M), beliau dinyatakan lulus dari progam S1 dengan predikat mumtaz(istimewa).

Di antara guru beliau di Fakultas Syari’ah Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) Madinah adalah,

– Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau mengajar kitab Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz di tahun pertama kuliah, kemudian diserahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad hafizhahullah untuk menggantikannya. Sebagaimana pula beliau mengajar kitab Shahih Muslim dan Tafsir Ibnu Katsir di al-Masjid an-Nabawi yang selalu diikuti oleh asy-Syaikh Rabi’hafizhahullahu.

– Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Beliau mengajar hadits dan dirasat al-asanid selama tiga tahun.

– Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad hafizhahullah. Beliau mengajar kitabBidayah al-Mujtahid selama tiga tahun dan juga Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz menggantikan asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

– Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Hafizh al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushuli an-Nahwi al-Lughawi al-Faqih Muhammad al-Amin asy-Syinqithi -penulis kitab Adhwaul Bayan– rahimahullah. Beliau mengajar tafsir dan ushul fiqih selama empat tahun.

–  Asy-Syaikh Shalih bin Husain al-Iraqi. Beliau salah seorang dosen mata kuliah aqidah.

–  Asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Abdul Ghaffar Hasan al-Hindi. Beliau mengajar ilmu hadits dan musthalah hadits.

ð  Setelah lulus dari Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) Madinah, beliau ditunjuk oleh asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sebagai pengajar di al-Ma’had ats-Tsanawi (setingkat ‘Aliyah) cabang Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) di Kota Madinah. Kemudian beliau diutus oleh asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ke India bersama asy-Syaikh Shalih bin Husain al-‘Iraqi untuk mengajar di Universitas as-Salafiyyah (al-Jami’ah as-Salafiyyah) selama tiga tahun. Di utus pula bersama beliau pada tahun kedua atau ketiga asy-Syaikh Hadi bin Ahmad Thalibi. Ketika datang masa liburan, beliau pulang berlibur ke Saudi Arabia. Dan, ketika selesai masa liburan tersebut beliau kembali ke India guna menjalankan tugas mengajar kembali. Dari sini, akan terjawab sebuah pertanyaan, “Mengapa jeda antara kelulusan beliau dari program S1 dengan program S2 cukup jauh?”

5.) Setelah sekian tahun mengajar, baik di al-Ma’had ats-Tsanawi cabang Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) Madinah maupun di Universitas as-Salafiyyah (al-Jami’ah as-Salafiyyah) India, akhirnya beliau kembali melanjutkan belajar untuk menempuh program pascasarjana S2 di Universitas King ‘Abdul ‘Aziz (Jami’ah al-Malik Abdil Aziz) cabang Makkah al-Mukarramah -sekarang bernama Universitas Ummul Qura-. Beliau lulus dari program S2 ini pada tahun 1397 H dengan sebuah desertasi yang terkenal dengan judul“Bainal Imamain Muslim wa ad-Daraquthni.”                

6.) Setelah itu beliau melanjutkan ke program pascasarjana S3 di universitas yang sama. Pada tahun 1400 H beliau dinyatakan lulus dari program doktoral tersebut dengan predikat mumtaz (istimewa). Desertasi beliau ketika itu adalah tahqiq kitab “an-Nukat ‘ala Kitab Ibn ash-Shalah” karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanirahimahullah.

7.) Setelah selesai dari program doktoral, beliau kembali ke Kota Madinah untuk mengajar di Fakultas Hadits Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah). Beliau mengajar mata kuliah hadits dan berbagai cabang ilmunya. Sebagaimana pula beliau berkali-kali menjabat kepala bagian as-Sunnah (ra’is qism as-Sunnah) di program pascasarjana. Dari sisi gelar akademis, beliau telah menyandang gelar Profesor Doktor, bahkan beliau telah sampai pada tingkatan “Ustadz Kursi” yaitu guru besar di bidang hadits dan berbagai cabang ilmunya.

♦ Kedudukan Beliau di Sisi Para ‘Ulama Sunnah

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
الشيخ ربيع من خيرة أهل السنّة والجماعة، ومعروف أنّه من أهل السنّة، ومعروف كتاباته ومقالاته

“Asy-Syaikh Rabi’ tergolong yang terbaik dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, terkenal dari kalangan Ahlus Sunnah, terkenal pula karya-karya tulis dan artikel-artikelnya.”

بخصوص صاحبي الفضيلة الشيخ محمد أمان الجامي والشيخ ربيع بن هادي المدخلي، كلاهما من أهل السنة، ومعروفان لدي بالعلم والفضل والعقيدة الصالحة

“Terkhusus kedua pemilik keutamaan asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami dan asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, keduanya termasuk dari Ahlus Sunnah, keduanya terkenal di sisiku dengan keilmuan, keutamaan, dan aqidah yang benar.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata,
… فأريد أن أقول إن الذي رأيته في كتابات الشيخ الدكتور ربيع أنها مفيدة ولا أذكر أني رأيت له خطأ، وخروجاً عن المنهج الذي نحن نلتقي معه ويلتقي معنا فيه.

“ …Maka aku ingin katakan, sesungguhnya yang aku lihat dalam berbagai karya asy-Syaikh DR. Rabi’ adalah karya-karya yang bermanfaat, dan aku tidak ingat bahwa aku mendapati satu kesalahan padanya, atau (sebuah prinsip) yang telah keluar dari manhaj yang kami bertemu dengannya dan dia bertemu dengan kami padanya.”

وباختصار أقول: إن حامل راية الجرح والتعديل اليوم في العصر الحاضر وبحق هو أخونا الدكتور ربيع، والذين يردون عليه لا يردون عليه بعلم أبداً، والعلم معه

“Dan secara ringkas aku katakan, sesungguhnya pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil pada hari ini di zaman ini dan dengan sebenar-benarnya adalah saudara kami Doktor Rabi’. Sementara orang-orang yang membantahnya, tidaklah mereka membantahnya di atas bimbingan ilmu sama sekali, dan ilmu (kebenaran) bersama beliau (asy-Syaikh Rabi’).”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
والشيخ ربيع من علماء السنة، ومن أهل الخير، وعقيدته سليمة، ومنهجه قويم …

“Asy-Syaikh Rabi’ termasuk dari ulama’ sunnah, dari ahlul khair (kalangan  orang baik), akidahnya selamat dari penyimpangan, dan manhajnya lurus…”

أما بالنسبة للشيخ ربيع فأنا لا أعلم عنه إلا خيراً والرجل صاحب سنة وصاحب حديث.

“Adapun terkait dengan asy-Syaikh Rabi’, maka aku tidak mengetahui tentang beliau kecuali kebaikan, dan beliau adalah shahib sunnah (‘ulama sunnah) dan shahib hadits (pakar di bidang hadits).”

…أنه على طريق السلف في منهجه ولاسيما في تحقيق التوحيد ومنابذة من يضاده،

“…bahwa beliau (yakni asy-Syaikh Rabi’-pen.) berada di atas jalan as-Salaf dalam hal manhajnya, terlebih dalam hal perealisasian tauhid dan penentangan terhadap orang-orang yang berlawanan dengannya.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah berkata,
النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم يقول: ((لا تزال طائفة من أمّتي ظاهرين على الحقّ لا يضرّهم من خذلهم حتّى يأتي أمر الله وهم كذلك))، فمن هؤلاء العلماء الشيخ ابن باز حفظه الله، والشيخ الألباني حفظه الله، والشيخ صالح الفوزان، والشيخ ربيع بن هادي، والشيخ عبدالمحسن العباد حفظهم الله.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda, ‘Akan selalu ada sekelompok kecil dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak akan mampu memudharatkan mereka orang-orang yang merendahkan mereka, hingga datang keputusan Allah dan mereka teta p (dalam kondisi) seperti itu.’ Di antara para ‘ulama (yang masuk dalam hadits di atas, pen.) adalah asy-Syaikh Ibn Baz hafizhahullah, asy-Syaikh al-Albani hafizhahullah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahumullah.”

أمّا الذين أنصح بالأخذ عنهم والذين أعرفهم فهم الشيخ: عبدالعزيز بن باز حفظه الله، والشيخ محمد بن صالح بن عثيمين حفظه الله، والشيخ ربيع بن هادي حفظه الله، والشيخ عبدالمحسن العباد حفظه الله، والشيخ صالح الفوزان حفظه الله …

“Adapun (para ‘ulama Saudi Arabia, pen.) yang aku nasehatkan untuk menimba ilmu dari mereka dan aku mengenal mereka adalah asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz hafizhahullah, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin hafizhahullah, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbadhafizhahullah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah….”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdullah as-Subayyil –imam al-Masjidil Haram Makkah-rahimahullah berkata,
فإن فضيلة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي الأستاذ بالجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة من العلماء المعروفين، والدعاة المشهورين في الأوساط العلمية في المملكة العربية السعودية، وقد عرف بتمكنه في علوم السنة وغيرها من العلوم الشرعية، ولفضيلته جهود كبيرة في الدعوة إلى الله سبحانه وتعالى على منهج السلف الصالح، والدفاع عن العقيدة السلفية الصحيحة، والرد على المخالف لها من أهل البدع والأهواء بما يذكر لفضيلته فيشكر.

“Sesungguhnya fadhilatus syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali seorang Profesor di Universitas Islam Madinah tergolong ‘ulama yang terkenal dan da’i yang kesohor dalam ruang lingkup keilmuan di Kerajaan Saudi Arabia. Sungguh beliau telah dikenal akan kemapanannya di bidang ilmu as-Sunnah (hadits) dan selainnya dari berbagai disiplin ilmu agama. Beliau mempunyai jasa yang besar dalam hal dakwah di jalan Allah yang tegak di atas manhaj as-Salafush Shalih, (sebagaimana pula) mempunyai jasa besar yang patut disyukuri dalam membela aqidah salafiyah yang benar dan membantah orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid’ah wal ahwa’.”

Mungkin saja di antara pembaca ada yang berseloroh, “Para ‘ulama tersebut kan sudah wafat, tentunya mereka tidak tahu perkembangan terakhir tentang asy-Syaikh Rabi’, sehingga perkataan mereka itu tidak bisa dijadikan dasar lagi. Coba sebutkan pujian para ‘ulama terkemuka yang masih hidup saat ini!”

Baiklah, sebelum saya menyebutkan pujian para ‘ulama sunnah terkemuka yang masih hidup saat ini terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu tidaklah kematian seorang ‘ulama menjadikan pujian yang pernah dia berikan terhadap seseorang seketika itu juga gugur. Pujian itu akan terus berlaku selama tidak tampak pada seorang yang dipuji tersebut hal-hal yang membatalkannya. Demikianlah hakikatnya dengan asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, pujian dari para ‘ulama yang telah wafat tersebut tidaklah gugur seketika dengan wafatnya mereka, karena tidak didapati -sejauh yang kami ketahui dan yakini- hal-hal yang membatalkannya. Apabila pola pikir si penanya tersebut diterapkan secara pukul rata, maka akan gugurlah seluruh pujian yang pernah dikeluarkan oleh para ‘ulama terhadap seseorang seiring dengan kematian mereka, dan ini menafikan sikap adil dan hikmah.

Adapun pujian para ‘ulama terkemuka yang masih hidup saat ini terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullahmaka cukup banyak, di antaranya adalah sebagai berikut,

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,
كذلك من العلماء البارزين الذين لهم قدم في الدعوة، فضيلة الشيخ عبدالمحسن العباد، فضيلة الشيخ ربيع هادي، كذلك فضيلة الشيخ صالح السحيمي، كذلك فضيلة الشيخ محمد أمان الجامي، إن هؤلاء لهم جهود في الدعوة والإخلاص، والرد على من يريدون الإنحراف بالدعوة عن مسارها الصحيح، سواء عن قصد أو عن غير قصد، هؤلاء لهم تجارب ولهم خبرة ولهم سبر للأقوال ومعرفة الصحيح من السقيم، فيجب أن تُروَّج أشرطتهم ودروسهم وأن ينتفع بها؛ لأن فيها فائدة كبيرة للمسلمين.

“Demikian pula, di antara para ulama’ ternama yang mempunyai peran besar dalam dakwah ini adalah Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad, Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadi, Fadhilatusy Syaikh Shalih as-Suhaimi, dan Fadhilatusy Syaikh Muhammad Aman al-Jami. Sesungguhnya mereka mempunyai peran besar dalam hal dakwah dan keikhlasan, serta membantah siapa saja yang ingin memalingkan dakwah dari jalannya yang benar, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Mereka adalah orang-orang yang teruji, berpengalaman, dan mempunyai keahlian untuk mengukur (menilai) perkataan-perkataan, serta membedakan antara yang benar dengan yang salah. Maka kaset-kaset dan pelajaran-pelajaran mereka wajib dipromosikan dan diambil manfaat darinya, karena padanya terdapat faedah yang besar bagi kaum muslimin.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Banna hafizhahullah ketika ditanya, “Apakah asy-Syaikh Rabi’ termasuk dari kibarul ‘ulama?” maka beliau berkata,
من في هذا العصر وما قبله يعرف حقيقة جلّ الدعاة مثله؟! من؟ ويعرف بالدليل والبرهان، لا يتكلم عن أحد إلا بالدليل، ولهذا أنا أقول عن ربيع هادي كيحيى بن معين في هذا العصر، أنا أقول إنّ ربيع هادي يحيى بن معين هذا الزمان … وأعرف النّاس بالرجال بالدليل والبرهان الشيخ ربيع هادي –الله يحفظه-، ويحفظ عليه عقله وحافظته … فجزاه الله خيراً، وثبّته الله، وأبقاه حتى يفنّد الذين يلبسون ثوب السلفيّة ومحاربتها، نسأل الله أن يبين حالهم ويفضحهم ويكفينا شرّهم.
“Siapakah di masa ini dan sebelumnya yang seperti beliau dalam hal mengetahui hakikat mayoritas para da’i?! Siapa? Dan mengetahui dengan dalil dan bukti, tidak berbicara tentang seseorang kecuali dengan dalil. Oleh karena itu aku katakan tentang Rabi’ bin Hadi bahwa beliau di masa ini seperti Yahya bin Ma’in, aku katakan (sekali lagi, pen.) sesungguhnya Rabi’ bin Hadi adalah Yahya bin Ma’in di masa ini… dan orang yang paling mengetahui tentang rijal (maksudnya para da’i dan yang semisalnya, pen.) dengan dalil dan bukti adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah menjaga beliau, menjaga akal dan kekuatan daya ingat beliau… Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, semoga Allah kokohkan beliau dan melanggengkan keberadaan beliau sehingga dapat memberantas orang-orang yang memakai baju salafiyah namun hakikatnya memeranginya. Semoga Allah menampakkan kondisi mereka yang sebenarnya, membongkar mereka, dan melindungi kita dari kejahatan mereka.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Ubaid bin ‘Abdullah al-Jabiri hafizhahullah berkata,
زكاه سماحة الإمام الوالد العلامة الأثري الفقيه الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله، وزكاه الإمام الفقيه المجتهد العلامة الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله، وزكاه الإمام المحدث في هذا العصر بلا نزاع الإمام ناصر رحمه الله ووصفه بأنه حامل لواء الجرح والتعديل في هذا العصر، وراية الشيخ ربيع التي رفعها جهاداً عن أهل السنة وذباً عنها وعن أهلها وهي شوكة في صدور المبتدعة حتى الساعة -ولله الحمد- ما هانت وما لانت وما انتكست
“(Asy-Syaikh Rabi’) telah direkomendasi oleh samahatul imam al-Walid al-‘Allamah al-Atsari al-Faqih asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, telah direkomendasi oleh al-Imam al-Faqih al-Mujtahid al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin rahimahullah, dan telah direkomendasi pula oleh al-Imam al-Muhaddits di masa ini -tanpa diragukan- al-Imam Nashir (maksudnya asy-Syaikh al-Albani, pen.) rahimahullah, dan beliau menggelarinya dengan “Pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil di masa ini”. Dan, bendera asy-Syaikh Rabi’ yang beliau kibarkan sebagai jihad dari Ahlus Sunnah dan pembelaan terhadap (manhaj)nya dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya merupakan duri di dada-dada ahlul bid’ah, hingga saat ini –walillahil hamd– bendera itu tidak melemah, tidak goyah, dan tidak tumbang.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata,
وإنّني لأؤكد لمحمد سرور وأعوانه أنّه إذا لم يكن الشيخ ربيع بن هادي المدخلي ومشايخه وزملاؤه وتلاميذه على منهج السلف، وأتباع أهل الحديث والأثر، فلا أدري عن المقصود بالسلفية والسلفيين.

“Sungguh, aku benar-benar tegaskan kepada Muhammad Surur (gembong sururi, pen.) dan para pembelanya, bahwasanya jika asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, guru-guru beliau, kawan-kawan beliau, dan murid-murid beliau tidak berada di atas manhaj salaf dan bukan pengikut ahlul hadits wal atsar maka aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan as-Salafiyyah dan as-salafiyyin!”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah berkata,
وهذا الجهد العظيم الذي قدمه فضيلة الشيخ ربيع -حفظه الله- هو واحد من الإسهامات الكثيرة التي قام بها لنصرة الدين والذب عن السنة والدفاع عن العقيدة وكشف زيف أهل البدع والأهواء، بأسلوب علمي رصين، ومنهج متوازن يتضح ذلك من خلال تلك المؤلفات القيمة والمحاضرات النافعة واهتمامه بالشباب وتوجيههم إلى المنهج الحق وقضاء كل وقته في خدمة العلم وطلابه مع مالاقاه من أذى خصوصاً من تلك الجماعات الحزبية الغالية التي استهدفت العلماء وطلاب العلم والدعاة السلفيين بالتشويه والإشاعات الباطلة والكذب والتزوير والتدليس وتحريف الكلام عن مواضعه.

وأقول لهؤلاء وأمثالهم :

   لا يضر البحر أمسى زاخراً      أن رمى فيه غلام بحجر

]فأما الزبد فيذهب جفاء، وأما ما ينفع الناس فيمكث في الأرض[.

‘’Usaha agung yang dipersembahkan oleh Fadhilatusy Syaikh Rabi’ hafizhahullah ini adalah salah satu dari sumbangsih beliau yang cukup banyak di dalam membela agama, as-Sunnah, dan aqidah, serta membongkar kepalsuan ahlul bid’ah dan ahwa’, dengan uslub (cara) yang ilmiah lagi kokoh dan manhaj yang adil. Hal itu nampak jelas dari karya-karya tulis (beliau), ceramah-ceramah (beliau) yang bermanfaat, kepedulian beliau yang besar terhadap para pemuda dengan senantiasa membimbing mereka kepada manhaj yang haq, dan menghabiskan segenap waktu beliau untuk berkhidmat kepada ilmu dan para penuntut ilmu, seiring dengan adanya gangguan yang beliau dapatkan terutama dari kelompok-kelompok hizbiyah yang ekstrim, yang membidik para ulama’, para penuntut ilmu, dan para da’i salafy dengan pencemaran nama baik, isu-isu batil, kedustaan, pemalsuan, penipuan, dan penyelewengan ucapan dari maksud yang sebenarnya. Maka aku katakan kepada mereka dan yang semisal dengan mereka,

Tidaklah samudra yang telah pasang airnya menjadi terganggu
  Oleh anak kecil yang melempar batu padanya

‘Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi’.”

Demikianlah diantara perkataan dan persaksian para ‘ulama sunnah zaman ini, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat tentang asy-Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Agar lebih memudahkan para pembaca dalam memahami dan mengingatnya, berikut ini saya buatkan kesimpulannya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran.

1)  Asy-Syaikh Rabi’ termasuk yang terbaik dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahkan termasuk dari ‘ulamanya yang menjadi rujukan utama, karena telah dikenal akan keutamaan dan kemapanannya di bidang ilmu as-Sunnah (hadits) dan selainnya dari berbagai disiplin ilmu agama.

2) Asy-Syaikh Rabi’ termasuk dari ahlul khair (kalangan orang baik) yang manhajnya lurus dan aqidahnya selamat dari penyimpangan. Beliau berada di atas jalan as-Salaf dalam hal manhajnya, terlebih dalam hal perealisasian tauhid dan penentangan terhadap orang-orang yang berlawanan dengannya. Beliau sangat peduli terhadap para pemuda dengan senantiasa membimbing mereka kepada manhaj yang haq. Menghabiskan segenap waktu untuk berkhidmat kepada ilmu dan para penuntut ilmu.

3) Asy-Syaikh Rabi’ termasuk ulama’ ternama yang mempunyai jasa besar dalam hal dakwah di jalan Allah yang tegak di atas manhaj as-Salafush Shalih, dan mempunyai jasa besar yang patut disyukuri dalam membela aqidah salafiyah yang benar dan membantah orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid’ah wal ahwa’ dan siapa saja yang ingin memalingkan dakwah dari jalannya yang benar, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja.

4) Asy-Syaikh Rabi’ termasuk ulama’ yang teruji, berpengalaman, dan mempunyai keahlian untuk mengukur (menilai) perkataan-perkataan, serta membedakan antara yang benar dengan yang salah. Bahkan, termasuk yang paling mengetahui hakikat mayoritas para da’i dengan dalil dan bukti. Karena itu beliau meraih gelar “Pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil pada hari ini di zaman ini dan dengan sebenar-benarnya.” Dan juga gelar “Yahya bin Ma’in di masa ini.”

5) Asy-Syaikh Rabi’ mempunyai berbagai karya tulis, artikel, dan ceramah yang terkenal dan bermanfaat. Dengannya, beliau membela agama, as-Sunnah, dan aqidah, serta membongkar kepalsuan ahlul bid’ah dan ahwa’, dengan uslub (cara) yang ilmiah lagi kokoh dan manhaj yang adil.

Ditulis oleh Ruwaifi’ bin Sulaimi al-Atsari

http://simp.ly/publish/6CfvWG

http://dammajhabibah.net/2013/11/17/mengenal-lebih-dekat-al-allamah-rabi-al-madkhali-2/
-------------------------------
Copyright : 1437 H - 2016 M http://salafykolaka.net

Minggu, 29 Mei 2016

{ Audio }- “PENTINGNYA THOLABUL ‘ILMI“ Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالى


{Audio}- “PENTINGNYA THOLABUL ‘ILMI“ Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالى

Kajian Islam Ilmiyyah Tangerang

Jum’at, 20 Sya’ban 1437 H / 27 Mei 2016M

Masjid Al Muhajirin Tigaraksa – Tangerang

Pemateri : Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالى

Download Audio: Pentingnya Tholabul ‘Ilmi

Copyrigth: 1437 H- 2016 H http://salafykolaka.net

Sabtu, 28 Mei 2016

{AUDIO}- "FIKIH PUASA" Karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’dy rahimahullah


Tema: “FIKIH PUASA” – Karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’dy rahimahullah

Ustadz Ahlus Sunnah pemateri
Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad as Sarbini حفظه الله تعالى,

Kajian Islam Ilmiyyah Di Kota Makassar - Sulawesi Selatan 

Sabtu-Ahad, 14-15 Sya’ban 1437 H / 21-22 Mei 2016 M

Masjid al-Muamalah Blok L BTP Makassar

Download AUDIO KAJIAN


Catatan; Qodarullah karna sesuatu hal.Audio 2,5 dan 6 bagian akhir audio terpotong sebab adanya kesalahan tehnis

Copyrigth 1437 H - 2016 M http://salafykolaka.net

Jumat, 13 Mei 2016

{ AUDIO }- "Bekal Menghadapi Prahara Kiamat" & "Menapak Jalan Generasi Terbaik"



Kajian Islam Perawang
Al Ustadz Muhammad Rijal, Lc حفظه الله

Jum'at, 14 Rajab 1437H / 22 April '2016
Tema :
"Bekal Menghadapi Prahara Kiamat"

Sabtu & Ahad
15-16 Rajab 1437H/ 23-24 April 2016
Tema :
"Menapak Jalan Generasi Terbaik"
(Ushulus Sunnah Imam Ahmad)

Kamis, 12 Mei 2016

{ AUDIO }- PERAN ILMU DAN AKHLAK DALAM DAKWAH_Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai'


PERAN ILMU DAN AKHLAK DALAM DAKWAH
Ahad 01 Sya'ban 1437H / 08 Mei 2016M
Pemateri : Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa'i حفظه الله تعالى
Tempat : Masjid Al Badr, Komplek Ma'had Darul Hadits Maros - Sulawesi Selatan

Download Audio

Copyright: Dauroh Maros http://salafykolaka.net 1437 H- 2016 M

Sabtu, 30 April 2016

{ AUDIO }- Tuntunan Salaf Dalam Mengambil Ilmu_Ustadz Muhammad Rijal.Lc


Muhadhoroh Umum Tuntunan Salaf Dalam Mengambil Ilmu

Ustadz Muhammad Rijal.Lc
Pengasuh Ma'had Al-Faruq.Kalibagor,BanyuMas.
Jum'at, Malam Sabtu:
29 Shofar 1437H/ 11 Desember 2015M
Komplex Alun-Alun
Masjid Agung Daarussalam Purbalingga

Download Audio

Pembahasan ilmiyah lainnya:

Sumber Audio dan Pamplet:

Copyright: http://salafykolaka.net 29 shofar 1437H- 11 Desember 2015M



Selasa, 26 April 2016

{ Audio }- Cinta dan Benci Karena Allah_Ustadz Abu Mu'awiyah Askari


CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH

Dauroh Ilmiyah Ahlussunnah Wal-Jama''ah Kendari
Pemateri: Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Askari hafidzahullah
TEMPAT DAN WAKTU:
Masjid Abu Dzar Al-Ghifary-Pondok Pesantren MINHAJUS SUNNAH KENDARI
Jln: HaluoLeo Nanga-Nanga Kendari

DOWNLOAD AUDIO KAJIAN

Copyright: http://salafykolaka.net 1437H - 2016M



Senin, 25 April 2016

{ AUDIO KAJIAN }- Dauroh Kolaka - Bahaya Radikalisme Dan Liberalisme Bagi Agama Dan Negara



BAHAYA RADIKALISME DAN LIBERALISME BAGI AGAMA DAN NEGARA

Bersama : Al Ustadz Abu Mu'Awiyah Askari Hafidzahullahu
Pengasuh Ma'had Ibnul Qoyyim bpp
Hari: Sabtu, 15 rajab 1437 H/ 23 april 2016 M
Tempat : Ma'had Imam Syafi'i kolaka

Download Audio


Copyright: http://salafykolaka.net 1437H-2016 M