Minggu, 28 September 2014

Tanya Jawab Ringkas "Tentang Makanan yang Dibayarkan Oleh PEKERJA BANK"

📬〰〰〰🌍➰📥📓📚

✔Tanya Jawab Ringkas

Tanya

Ustadz  al afwu mingkum

🔐Bismillah ada pertanyaan?
Skrg ana mau makan di warung, trus ana di bayarkan oleh teman kenalan,ana nolak mau dibayarkan karna ana tau dia kerja di bank,
Tapi beberapa kali ana nolak tetap dia mau dibayarkan ana ke kasir ,,krna waktu itu ana jg tdk sengaja ketemu di warung bersamaan mau makan.
Yang jdi masalah? Bgmana hukumnya memakan makana itu? Yg jelas bahwa dia keja dibank dgn penghasilan Ribawi.
Atau apakah ana tetap lanjutkan makan makanan itu, ? Karna sblumnya ana tdk ada unsur kesengajaan ketemu di  warung.
Ada yg bisa jelaskan lebih rinci tentng makanan tsb?

 Jawab:
Al Akh Ustadz Abul Fida'

Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu ditanya tentang seseorang yang memiliki tetangga yang memakan riba secara terang-terangan, tetapi tidak merasa bersalah dengan harta yang buruk, lalu si tetangga itu mengajaknya dalam undangan makan. Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu pun menjawab, “Penuhilah undangannya. Kenikmatan (makanan) adalah untuk kalian, tetapi dosanya adalah terhadap dia.” Dalam sebuah riwayat, si penanya berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu apapun yang menjadi miliknya, kecuali hal yang buruk atau hal yang haram,” tetapi Ibnu Mas’ûd tetap menjawab, “Penuhilah undangannya.”
📚jami'ul 'ulum wal hikam

🔎 Harta haram terbagi 2

1 haram dari sisi dzatnya
2 haram dari sisi sifat dan cara mndapatkannya

Rosululloh jg mnerima pemberian  hadiah berupa daging dari orang yahudi ,padahal telah diketahui orang yahudi pemakan riba.
Klw haram dari sisi dzatnya tidak boleh ,adapun yg akhy tanyakn adalah yg jenis ke dua ,syaikh bin baz juga mnfatwakn boleh menerimanya.🔦
〰〰〰➰〰〰〰
 Jawab:
Ustadz Abu Fatimah Muh: Arsyad Madinah

 Bismillah, Barokallahu fiikum, insyaa Allah tidak apa² karena bukan antum yang menangguh dosa tapi dia , sama halnya seorang anak yang orang tuanya kerja dibank dimakan dari penghasilan orang tuanya sehingga anak tersebut tdk berdosa yang berdosa orang tuanya .
Tapi jika antum ragu kekasir , ini saya yang bayar dengan uang antum sendiri kemudian itu uang teman antum biarkan aja kemudian antum pergi jika ingin lebih selamat .
Allahu a'lam.
〰〰➰〰〰〰
 Jawab.
 Ustadz Abu Zulfa Anas.

 Hukum nya boleh.harta dari kerja haram.hukumnya haram untuk pribadinya halal bagi orang lain.dalilnya nabi makan makanan dari undangan seorang  wanita yahudi dan beliau juga jual beli dengan orang yahudi.padahal pekerjaan mereka banyak yang haram.barakallohu fikum.

🔅〰🔆〰➰➰〰🔆〰🔅

 Salafy Lintas Pulau
اَلسَّلَفِيْ يَمُرٌّ الْجَزِيْرَةُ

Selasa, 23 September 2014

RINGKASAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR HEWAN KURBAN

WAKTU PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN

Ada 4 hari untuk penyembelihan hewan kurban:

▪Diawali setelah sholat 'iedul adha, dan 3 hari setelahnya (yaitu tanggal 11,12 dan 13 - hari tasyrik).
▪Dan waktu terakhir penyembelihan hewan kurban, tatkala matahari tenggelam tanggal 13 Dzulhijjah.
(Adapun waktu penyembelihan hewan kurban, boleh diwaktu SIANG ataupun MALAM).

[Fatawa Ibnu Utsaimin 25/167]

DIHARAMKAN BAGI YANG HENDAK BERKUBAN (pada 10 hari pertama Dzulhijjah)

-Memotong rambut
-Memotong kuku
-Menghilangkan (memotong) kulit

Adapun bagi keluarga Mudhohiy (Orang yg hendak berkurban -pent),
Maka boleh melakukan hal-hal di atas.

[Fatawa Al Lajnah Ad Daimah (11/397)]

Boleh bagi ORANG YANG DIBERI AMANAH untuk menyembelihkan hewan kurban dari orang yang berkurban :
√ Memotong rambutnya
√ Memotong kukunya
√ Menghilangkan (memotong) kulitnya

[Fatawa Ibnu Utsaimin (25/100)]

KEYAKINAN YANG KELIRU:
Sebagian manusia mengira, bahwa seorang yang hendak berkurban kemudian dia memotong sedikit dari rambutnya, atau memotong kukunya, atau menghilangkan sebagian kulitnya pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
 (?_?)
Maka hewan kurbannya tidak diterima.

Maka ini keyakinan yang tidak benar.

[Fatawa Ibnu Utsaimin 25/161].

SYARAT HEWAN YANG BOLEH UNTUK BERKURBAN

▫Unta umur 5 tahun
▫Sapi umur 2 tahun
▫Kambing 1 tahun
▫Kambing kibas (domba) umur 6 bulan

[Fatawa Ibnu Utsaimin 25/13]

CACAT PADA HEWAN YANG TIDAK BOLEH DIGUNAKAN UNTUK BERKURBAN

Matanya rusak (buta sebelah)
Hewan dalam keadaan sakit yg parah
Hewannya pincang kakinya
Hewannya sangat kurus,yg tidak ada sumsumnya
Dan cacat-catat yang semisal dari yang di atas, atau bahkan lebih parah.

Maka yang seperti ini tidak boleh dijadikan hewan kurban.

[Fatawa Ibnu Utsaimin 13/25].

DIHARAMKAN UNTUK MENJUAL SESUATUPUN DARI HEWAN KURBAN

Baik itu berupa dagingnya, gajih (lemaknya), atau otak, kulit dan yang selainnya.
Dikarenakan itu semua merupakan harta yang dikeluarkan (dari orang yang berkurban, pent) Lillaahi Ta'ala.
Maka tidak boleh dikembalikan dalam perkara ini, seperti halnya shodaqoh.

Dan tidak pula diperkenankan bagi orang yang menyembelih untuk diberi darinya sebagai UPAHNYA atau sebagiannya.

[Fatawa Ibnu Utsaimin 1/25]

Alih bahasa : Ibrohim Abu Kaysa (Ma'had Al Manshuroh - Purbalingga)

WA Forum Berbagi Faidah
        مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
WhatsApp Salafy Lintas Pulau
السلفين مرورالجزيرة

Kamis, 18 September 2014

JALAN KELUAR DARI FITNAH Oleh Al ustadz Abu Dihya Kamal Hafidzahulloh

((((  )))) REKAMAN DAUROH KOLAKA DZULQO'DAH 1435H

📚 Dengan Tema:
JALAN KELUAR DARI FITNAH

Bersama: Al-Ustadz Abu Dihyah Kamal Al Atsary hafidzohullah

📅Ahad 12 Dzulqo'dah 1435H / 07 September 2014

Tempat: Pondok Imam Syafi'i Kolaka, Sulawesi tenggara

🌐🌍Link download:

 sesi 1 - Jalan Keluar Dari Fitnah - Durasi 2 jam 01.01 menit
http://bit.ly/1lRNvVt

 sesi 2 - Jalan Keluar Dari Fitnah - Durasi 01 jam 19.30 menit
http://bit.ly/1utm6tt

 sesi 3 - Tanya Jawab - Durasi 1 jam 2.51 menit
http://bit.ly/1olhUae


Semoga bermamfaat barokallohu fiikum

((( Salafy Lintas Pulau )))

MENGAKU-NGAKU JADI ULAMA

FATAWA:
Bersama: Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i rahimahullah

Soal:
Apakah yang dimaksud dengan At-Ta'aalum yang tercela, dan bagaimanakah cara agar tidak terjatuh didalamnya, serta bagaimana membedakan antara dia dengan orang yang berdakwah di jalan Allah dan menyebarkannya sebagai pengamalan haditsnya (Nabi) shallallahu 'alaihi wasallam "Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat"?

Jawaban:
Pembahasan At-Ta'aalum yang tercela telah ditulis oleh saudara kita Bakr bin Abdillah Abu Zaid hafizhahullah, suatu risalah yang berharga yang kami nasehatkan untuk diambil faedah darinya. Dia (at-Ta'aalum) adalah bisa bentuknya seseorang yang menganggap dirinya berilmu, padahal dia jahil, dan ini biasa dinamakan dengan jahil murakkab[1] atau bentuknya mengaku-ngaku punya ilmu namun dia tahu kalau dirinya memang bukan orang yang berilmu, akan tetapi dia bergaya dihadapan umum. Hal ini termasuk dalam katagori at-Ta'aalum.

Dari sini, ada perkara yang ingin saya ingatkan, yaitu perbedaan antara seorang yang berilmu dan seorang dai. Terkadang seorang dai baru memiliki hafalan sekitar sepuluh hadits, kemudian dia (berdakwah) berpindah dari satu masjid ke masjid yang lainnya. Ketika bertemu dengan orang-orang awam, mereka mengatakan kepadanya: "Semoga Allah memperbanyak dai semisalmu", (mendengar hal itu) dia menjadi besar kepala, padahal tidaklah yang dia miliki melainkan sekitar sepuluh hadits saja.

Terkadang ada orang yang memiliki pengetahuan bahwa bumi berputar, matahari diam dan bulan naik. Dia mendendang-dendangkan hal-hal seperti ini di majelis-majelis. Datanglah orang-orang awam menemuinya dan mengelus-elus pundaknya sambil berkata kepadanya: "Semoga Allah memperbanyak dai semisalmu." Mereka menganggapnya sebagai orang yang berilmu.

 Terkadang pula ada seorang yang pergi mendatangi pemerintah dan dapat memberikan penerangan dengan sebenar-benarnya kepada pemerintah, kemudian dianggap oleh orang-orang bahwa dia adalah pahlawan, dia-lah orang yang jujur, dia-lah yang berani berbicara tentang kebenaran, dia tidak takut terhadap celaannya orang-orang yang mencela.

Maka harus dibedakan antara mereka dengan para ulama (yang sebenarnya). Ilmu itu membutuhkan kesabaran. Berkata Yahya bin Abi Katsir kepada anaknya: "Ilmu itu tidaklah akan dicapai dengan bersantai-santai. Suatu hal yang mungkin, dia datang ketempat ini (Dammaj) bisa menghafal 70.000 atau bahkan lebih, sebagian mereka ada yang datang (belajar) diwaktu malam, kemudian melakukan safar pada pagi harinya. Ilmu membutuhkan kesabaran; kesabaran dalam menghafal, kesabaran dalam mengamalkan ilmunya, kesabaran dalam mendakwahkannya dan kesabaran (mengekang diri) agar tidak lari dari ilmu. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:
"Sesungguhnya perumpamaan para penghafal Al Qur`an adalah seperti seorang yang memiliki unta yang terikat, jika ia selalu menjaganya, maka ia pun akan selalu berada padanya, dan jika ia melepaskannya, niscaya ia pun akan lari." [Muttafqun 'alaihi, dari shahabat Ibnu 'Umar]
Atau semakna (sabdanya) dengan ini.

Sungguh hal ini membutuhkan kesabaran dan peneladanan, sebagaimana yang diutarakan Al-Ma'mun tatkala beliau ditanya: "Apakah masih tersisa sedikit dari kenikmatan dunia yang belum Anda raih? Beliau menjawab: 'Iya, yaitu perkataan Al-Mustamli: "Datangkanlah, semoga Allah mengampunimu!'. Maka berkumpullah anak-anaknya (anak Al-Ma'mum) dengan gembira, mereka telah membawa pena-pena dan buku-buku mereka (untuk mendapatkan hadits dari Al-Mustamli), mereka berkata kepada Al-Mustamli: "Berikanlah kami (hadits-hadits), semoga Allah mengampunimu! Kemudian Al-Mustamli berkata: "Kalian bukanlah ahlinya, karena hanyalah mereka (ahlul hadits) adalah orang-orang yang kusut rambutnya, kotor pakaiannya dan pecah-pecah kakinya."

🌱Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya bersabar dengan kesusahan, kelaparan, rasa ketakutan, kedinginan, dan kesakitan tatkala beliau tiba di Madinah dan telah kami sampaikan sebagiannya di akhir pembahasan tentang Si Kafir Al-khumaini di negeri Al-Haramain. Penuntut ilmu butuh kesabaran.

Sebagian pemimpin dari kalangan Al Ikhawnul Muflisin (IM, kelompok jama'ah bangkrut) mengatakan: "Janganlah kau berbicara kepada manusia dengan ayat-ayat Al-Quran ataupun hadits nabawi, akan tetapi bicaralah dari dirimu sendiri saja!"

Terus dengan apa nanti mereka keluar masjid jika kamu tidak berbicara kepada manusia dengan ayat-ayat Al-Quran atau hadits nabawi?! Orang ini miskin dan rusak (pemikirannya). Dia ingin berusaha menutupi dirinya, karena dia tidak mampu berdalil dengan ayat maupun hadits.

Saya nasehatkan untuk melihat kitab yang berharga tadi "At-Ta'aalum". Padanya disebutkan contoh-contoh yang bagus, semoga Allah membalas kebaikan kepadanya.
Adapun penuntut ilmu yang sudah mengajar sebagian bidang ilmu yang dia telah pelajari, maka ini merupakan hal yang bagus. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang yang menampakkan kepuasan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya adalah seperti halnya seorang yang memakai dua pakaian kedustaan." [HR. Al-Bukhari-Muslim, dari shahabat Asma']

Apabila kamu telah mempelajari kitab Al-Ba'its Al-Hatsits, Bulughul Maraam, 'Umdatul Ahkam atau At-Tuhfah As-Saniyyah, maka jika kamu ingin Allah memberkahi ilmumu, wajib bagimu untuk semangat mengajarkannya. Kamu mengajarinya walaupun hanya sekali, maka itu lebih baik daripada kamu membaca sendirian untuk dirimu sebanyak sepuluh atau dua puluh kali, karena murid akan mengajakmu saling berdiskusi; kenapa seperti ini? apakah maknanya? Maklumat-maklumatmu semakin lengket diingatanmu.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataanku, dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya sebagaimana apa yang ia dengar." [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi]

Dahulu ada seorang yang datang sebagai utusan menghadiri majelis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam satu atau dua kali majelis, kemudian ia pulang (ke negerinya) menyampaikan ilmunya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Beliau mengatakan ini ketika haji Wada'. Telah hadir manusia yang banyak pada Haji Wada'.

Tema pembicaraan kita tadi adalah tentang seorang yang menampakkan kepuasan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya dan berpura-pura (menjadi orang yang berilmu) dihadapan manusia, ini merupakan alamat bahwa orang tersebut tidak tahu tentang ilmu sedikitpun.

Sumber:
Kitab "Gharraatul Asyrithah: 2/98-99."

Download suara beliau di:
http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3947

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
WA. FORUM KIS

PARA SALAF MEMBENCI SIKAP 'TALLAWUN' DALAM BERAGAMA

Abu Mas’ud masuk menemui Hudzaifah, maka dia pun berkata, “Berikan kepadaku wasiat.”

Maka Hudzaifah berkata, “Bukankah telah datang kepadaku keyakinan?”

Abu Mas’ud menjawab, “Benar, demi kemuliaan Rabb-ku.”

Maka Hudzaifah berkata,

 « فَاعْلَمْ أَنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنِ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِدٌ »

“Ketahuilah, bahwa kesesatan yang sebenar-benar kesesatan adalah kamu menganggap ma’ruf sesuatu yang sebelumnya kamu anggap munkar, dan kamu menganggap munkar sesuatu yang sebelumnya kamu anggap ma’ruf. HATILAH-HATILAH KAMU DARI SIKAP TALAWWUN, karena AGAMA ALLAH ITU SATU!!”  (al-Ibanah al-Kubra I/189)

-------------------
Dari Hudzaifah bin al-Yamanradhiyallahu ‘anhu berkata, “Apabila kamu ingin tahu apakah kamu tertimpa fitnah ataukah tidak, maka lihatlah, apabila dia memandang halal sesuatu yang sebelumnya ia pandang haram, maka berarti dia telah tertimpa fitnah! Apabila dia memandang haram sesuatu yang sebelumnya ia pandang halal, maka berarti dia telah ditimpa fitnah. “

(diriwayatkan oleh al-Hakim dalamMustadrak-nya  dan berkata, “hadits shahih, sesuai syarat asy-Syaikhain namun keduanya tidak meriwayatkannya.” Penilaian ini disepakati oleh adz-Dzahabi.)

----------------------
Dari Muhammad bin Sirin berkata, ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya kalian senantiasa berada di atas kebaikan selama kalian tidak memandang ma’ruf sesuatu yang sebelumnya kalian pandang munkar, dan  memandang munkar sesuatu yang sebelumnya kalian pandang ma’ruf. Dan selama ‘ulama kalian berbicara di tengah-tengah kalian tidak takut.” (al-Ibanah al-Kubra I/190-191)

------------------
Dari Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah :

“Dulu mereka (yakni para Salaf) MEMBENCI SIKAP TALAWWUN DALAM AGAMA.“

----------------------
Dari Ibrahim an-Nakha’i rahimahullahjuga,

“Dulu mereka (yakni para Salaf) memandang SIKAP TALAWWUN dalam agama termasuk KERAGUAN HATI TERHADAP ALLAH.”

Malik berkata, “Penyakit yang tidak bisa diobati adalah TANAQQUL (berpindah-pindah alias TALAWWUN) dalam agama.”

Malik berkata, “Seseorang berkata, ‘Sesuatu yang dulu kamu bermain-main dengannya, maka JANGANLAH BERMAIN-MAIN TERHADAP AGAMAMU.”

(al-Ibanah al-Kubra II/505-506)

-------------------
Dari Muhammad bin Ka’b al-Qirzhi, beliau ditanya: ‘Apakah tanda-tanda kekalahan seseorang?’

Beliau menjawab, “Apabila dia memandang jelek sesuatu yang sebelumnya dia anggap baik, dan memandang baik sesuatu yang sebelumnya jelek.” (Hilyah al-Auliya’ III/215)

-----------------
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Kami tidak seperti kalian, seperti Bunglon yang berubah-ubah warna … .”

*******************
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=142653

WA PECINTA AL - HAQ
WhatsApp Salafy Lintas Pulau

{ Nasehat }- TIDAKKAH ANDA TAKUT MENYIMPANG DARI JALAN YANG BENAR

Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullahu Ta'ala berkata, "Seorang mukmin hendaklah senantiasa takut keadaan (iman)nya berubah (menyimpang)."

Aisyah dan Anas radhiyallahu 'anhuma mengabarkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam banyak berdoa,

يا مقلبَ القلوبِ ثبت قلبي على دينك

"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan kalbu, kokohkan kalbuku untuk senantiasa berada di atas agama-Mu"

Aku pun berkata, "Ya Rasulullah, kami beriman kepadamu dan apa yang Anda bawa. Apakah Anda mengkhawatirkan kami?".

Beliau berkata, "Iya, sesungguhnya kalbu-kalbu ini berada di antara dua jari Allah Azza wa Jalla dari jari-jemari-Nya, Dia bolak-balikkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki."

Demi Allah, ini adalah pemahaman (yang tepat), setiap orang tidak merasa aman akan dirinya (untuk tergelincir) karena Syaithan mengalir pada diri anak Adam sepanjang peredaran darah.

Maka setiap orang hendaklah menjadi sang penjaga kalbu, akal, dan agamanya dengan penjagaan yang penuh dengan kehati-hatian.

Penjagaan yang lebih ketat daripada penjagaannya terhadap harta dan kehormatannya, serta orang yang menjadi tanggungjawabnya.

Wajib (bagi setiap mukmin) untuk serius dalam menjaga kalbu sebelum segala sesuatu:

{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ}

"Wahai Rabb kami, janganlah Engkau selewengkan kalbu kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami dan karuniakan kepada kami rahmat yang ada di sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Memberi."

Sumber:
"Marhaban Ya Thalibal IlmIi" hal. 67

Faedah dari al-Akh Abu Bakar Jombang

Rabu, 17 September 2014

SEBAB-SEBAB ISTIQAMAH di atas AL-HAQ

 1. Perhatian terhadap al-Qur`an al-Karim, membacanya, menghafalnya, dan mengamalkannya.

 2. Iman kepada Allah dan Amal Shalih.

 3. Mentadabburi Kisah-Kisah para Nabi, dan Mempelajarinya

 4. Menghadap kepada Allah dengan Doa, memohon agar dikokohkan di atas Agama-Nya

Seorang hamba hendaknya senantiasa berdoa memohon kepada Rabb-nya siang dan malam agar dikokohkan di atas agama-Nya hingga akhir hayat.

 5. Senantiasa berdzikir (mengingat) Allah.

 6. Berdakwah ke Jalan Allah dan menyebarkan ilmu. Ini adalah tugas para rasul dan para pengikut rasul. Apabila seseorang bersemangat untuk menyampaikan hidayah kepada makhluk, maka balasannya sesuai dengan jenis amalnya, yaitu hidayah untuknya dan tambahan kekokohan di atas agama.

 7. Teman yang shalih. Berteman dan duduk bersama 'ulama, orang shalih, dan kaum mukminin. Ini merupakan di antara sebab terbesar yang bisa membantu seseorang untuk kokoh di atas al-Haq.

💥 JAUHILAH orang-orang yang lalai hatinya, dan para pengekor hawa nafsu, yaitu orang-orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya di atas kebenaran, mendahulukan bid'ah di atas kebenaran.

 Di antara SEBAB KOKOH DI ATAS AGAMA ALLAH, bergaul bersama orang-orang yang beribadah kepada Allah, duduk bersama mereka, dan bergaul bersama mereka. Di antara SEBAB MENYIMPANG DARI AGAMA ALLAH, bergaul dengan ahlul ahwa' dan ahlul bid'ah.

 Para 'ulama Ahlus Sunnah menegaskan, "Jangan duduk bersama ahlul bid'ah, MESKIPUN DIA MENAMPAKKAN PEMBELAAN TERHADAP SUNNAH."

 Sebagian Salaf mengatakan, "ORANG YANG DUDUK BERGAUL DENGAN AHLUL BID'AH LEBIH BERAT TERHADAP KAMI DIBANDINGKAN AHLUL BID'AH-nya." Karena mengakibatkan adanya pengaburan dan terkecohnya umat.

 8. Percaya dan yakin akan janji dan pertolongan Allah. Bahwa Allah pasti akan membela, menolong, dan memenangkan hamba-hamba-Nya yang beriman.  Ini merupakan cara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menguatkan dan mengokohkan hati para shahabatnya. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyaksikan kondisi para shahabatnya yang ditindas dan disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy (yakni pada awal-awal Dakwah di Makkah). Maka sebagian shahabat mengeluh kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mohon didoakan kepada Allah. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan, "Demi Allah, Dia pasti akan menyempurnakan urusan (agama)ini, sehingga para pengendara berjalan dari Shan'a menuju Hadramaut tidak takut sama sekali kecuali hanya kepada Allah. Namun kalian kaum yang terburu-buru."

 Wahai Ahlu Sunnah, janganlah kalian gentar karena jumlah kalian yang sedikit. Teruslah kalian kokoh di atas agama Allah, teruslah kalian mempelajari ilmu dan menyebarkannya, serta mendakwahkan sunnah. Dengan itu kalian akan memperoleh kebaikan yang sangat banyak.

🔗 Perhatikan perjalanan para 'ulama Salaf, sebagian mereka meninggal di penjara. Namun setelah itu, justru kitab-kitab hasil karya mereka tersebar luas. Demikian pula ilmu mereka tersebar luas. Dan kita hingga hari ini bisa merasakan kebaikan-kebaikan mereka.

 9. Sabar. Ini merupakan di antara sebab terbesar untuk bisa kokoh di atas agama ini. Maka ahlul haq dan ahlus sunnah, hendaknya dia kokoh di atas agama Allah, sabar menghadapi berbagai gangguan dan resiko, bersemangat untuk tetap berdakwah dengan hikmah dan mau'izhah hasanah.

 10. Merenungkan kenikmatan-kenikmatan jannah (surga) dan adzab neraka. Serta mengingat mati. Dengan itu, seseorang akan sadar bahwa dunia ini hanyalah hari-hari yang singkat. Tidak tertipu dengan dunia ini.           Sementara kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat.

 11. Beramal dengan ilmu

📚 [ dari Muhadharah "Asbab ats-Tsabat 'ala al-Haq" (Sebab-sebab agar Kokoh di atas al-Haq), oleh asy-Syaikh 'Abdullah bin Muhammad an-Najmi hafizhahullah, Rabu, 2 Jumadal Akhirah 1435 H pukul / Ahad, 2 April 2014 M ]

-------------------------
🌠 Sumber,: WhatsApp Manhajul Anbiya Indonesia

 WA PECINTA AL - HAQ
((( WhatsApp Salafy Salafy Kolaka)))

Copyright : http://salafykolaka.net

HUKUM ORANG YANG MENDAPATI JAMA'AH YANG SEDANG MENGERJAKAN SHOLAT ISYA SEMENTARA DIA BELUM SHOLAT MAGHRIB

📚📚📚

حكم من وجد الجماعة يصلون العشاء وهو لم يصل المغرب

رجل تأخر ولم يصلِّ المغرب حتى دخل وقت العشاء، فلما أتى إلى المسجد رأى الإمام يصلي بالجماعة صلاة العشاء وهو في الركعة الثانية، فدخل معهم وصلى العشاء، ثم قام بعدها وصلى المغرب، فقلت: كان الأولى بك أن تدخل مع الإمام ونيتك صلاة المغرب، ثم تقوم بعدها وتصلي العشاء منفرداً أو مع جماعة أخرى، فقال: كيف أصلي معه بنية المغرب وهو في الركعة الثانية؟! هل أسلم مع الإمام أم أقوم وآتي بالركعة التي فاتت خوفاً من إنكار الذي يصلي بجواري، فسوف يقول لي: قم وائت بركعة! فاحترت؛ ثم بعثت بالسؤال إليكم، أفتونا بارك الله في أعماركم وفي أعمالكم وعلمكم،
🔈Soal : Seseorang terlambat dan belum mengerjakan sholat maghrib sampai masuk waktu isya. Maka ketika dia datang ke masjid, dia melihat imam sedang mengimami jama'ah sholat isya dan imam itu sedang berada pada rokaat kedua. Maka diapun masuk bersama mereka dan melaksanakan sholat isya, kemudian berdiri setelah selesai isya dan mengerjakan sholat maghrib. Maka saya katakan (kepada orang tsb, pent) : "Bahwa yang lebih utama bagimu adalah engkau masuk (untuk berjamaah) bersama imam dan niatmu adalah sholat maghrib, kemudian engkau berdiri setelahnya (setelah selesai berjamaah, pent) dan mengerjakan sholat isya sendiri atau bersama jama'ah yang lain." Maka dia menjawab : "Bagaimana mungkin saya sholat bersamanya (imam) dengan niat maghrib sementara dia (imam) sudah berada pada rakaat kedua?! Apakah saya salam bersama imam ataukah saya berdiri dan menambah rakaat yang terluput karena khawatir pengingkaran dari orang yang sholat disebelahku, nanti dia berkata kepadaku :
"Berdirilah dan datangkan satu rakaat lagi." Maka sayapun terkesima, kemudian saya mengirim pertanyaan kepada anda. Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Allah memberkahi usia anda, amalan-amalan anda, serta ilmu anda.

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله، وصلى الله وسلم على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه. أما بعد: فالمشروع لك وأمثالك إذا جئت والإمام في الصلاة صلاة العشاء، وأنت لم تصلِ المغرب أن تدخل معهم بنية المغرب، ولا حرج في ذلك في أصح قولي العلماء، فإذا كان قد صلى واحدة نويت المغرب وصليت معهم الثلاث وتكفيك عن المغرب، وتسلم معهم، وإن كنت في أول الصلاة جئتهم وهم في أول الصلاة دخلت معهم، وإذا فرغت من الركعة الثالثة جلست تنتظر الإمام حتى يسلم ثم تسلم معه، وتكفيك عن المغرب، ثم تصلي العشاء بعد ذلك وحدك إن لم يتيسر جماعة أخرى، هذا هو المشروع لك ولأمثالك، ولا حرج في اختلاف النية، أنت نويت المغرب وهم ينون العشاء لا حرج في ذلك؛ لأن الترتيب واجب، الترتيب بين الصلوات واجب، المغرب تؤدى قبل العشاء، وهكذا الظهر قبل العصر، وهكذا لو جاء إنسان وهم يصلون العصر وعليه الظهر يصلي معهم العصر بنية الظهر، فإذا فرغ من العصر من صلاته معهم الظهر صلى العصر بعد ذلك وحده، أو مع جماعة إن تيسر، هذا هو الصواب في هذه المسألة، والله ولي التوفيق. جزاكم الله خيراً.
🔈Jawaban Syaikh Bin Baz Rahimahullah :

 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah, Sholawat dan Salam Allah semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, serta orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba'du.
Maka yang disyariatkan bagimu dan semisalmu, jika engkau masuk dan (mendapati) imam sedang mengerjakan sholat isya sedangkan engkau belum mengerjakan sholat maghrib, hendaknya engkau masuk (berjamaah) bersama mereka dengan niat sholat maghrib, dan tidak ada masalah dalam hal itu berdasarkan pendapat yg paling kuat dari dua pendapat dikalangan ulama. Maka jika imam telah selesai satu rakaat sedangkan engkau meniatkan sholat maghrib dan engkau sholat 3 rakaat bersama mereka, maka hal itu sudah mencukupimu dari sholat maghrib (sholat maghribnya sah, pen), dan engkau salah bersama mereka. Dan jika engkau mendatangi mereka di awal sholat dan mereka masih di awal sholat (rakaat pertama, pent) ketika engkau masuk (berjamaah) bersama mereka, maka jika engkau telah selesai dari rakaat ketiga, engkau tetap duduk menunggu imam hingga salam kemudian engkau salam bersamanya, dan hal itu mencukupimu dari sholat maghrib, kemudian setelah itu engkau sholat isya sendirian jika tidak ada jama'ah yang lain. Inilah yang disyariatkan bagimu dan semisalmu dan tidak ada masalah dalam perbedaan niat, engkau meniatkan maghrib sedangkan mereka meniatkan isya, tidak ada masalah dalam hal itu, karena tartib wajib, tartib diantara (waktu) sholat-sholat adalah wajib, maghrib engkau tunaikan sebelum isya, demikian pula dhuhur sebelum ashar. Demikian pula jika seseorang datang sedangkan orang-orang mengerjakan ashar sementara dia memiliki kewajiban menunaikan dhuhur, maka dia sholat ashar bersama mereka dgn niat dhuhur, dan jika dia selesai dhuhur dari berjamaah ashar bersama mereka, dia sholat ashar sendirian setelah itu atau bersama jama'ah lain jika ada. Inilah yang benar dalam masalah ini, dan taufik hanya milik Allah, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/15867

Tambahan faedah :
Pada daurah asatidzah di Al-Anshor jogja beberapa waktu yang lalu, saya (abu athiyah Rismal) bertanya pribadi masalah di atas kepada Asy-Syaikh Abu Ammar Ali Al-Hudzaify hafizhahullah, maka beliau menjawab bahwa boleh baginya tetap duduk pada rakaat ketiga menunggu imam selesai sehingga dia salam bersama imam dan boleh juga dia salam sendiri setelah itu berdiri melaksanakan isya mengejar 1 rakaat terakhir bersama imam agar bisa mendapatkan jama'ah setelah itu sempurnakan sisa rakaat isyanya, wallahu a'lam.

Alih Bahasa :
Ust. Rismal abu athiyah hafizhahullah

📚 TIS (Thalab Ilmu Syar'i)
((( WhatsApp Salafy Lintas Pulau )))

PENTINGYA IKHLAS

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata:
“Pelajarilah niat karena niat lebih sempurna daripada amal.”

🔃Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:
“Berapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat.”

↪ Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi rahimahullah berkata:
“Perkara yang paling berat di dunia adalah ikhlas. Aku sering menghilangkan riya` dari hatiku tetapi seolah tumbuh lagi di hatiku dengan warna yang berbeda.”

🔁 Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata:
“Baiknya hati tergantung dari baiknya amal, dan baiknya amal tergantung dari baiknya niat.”

✔Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
“Sesuatu yang paling berat mengobatinya bagiku adalah niatku, karena niatku senantiasa berbolak-balik.”

 Seorang ahli cerita yang suka menasihati orang berdiri dekat Muhammad bin Wasi’, lalu berkata, “Betapa aku melihat hati manusia tidak khusyu’, tidak menangis, dan kulit tidak bergetar dengan nasihat. Mengapa?”
Muhammad berkata, ”Hai fulan, aku melihat manusia datang dari sisimu. Sesungguhnya peringatan itu jika keluar dari hati (yakni dilakukan secara ikhlas –red) maka akan diterima hati.” (Shifatush Shafwah, 4/269, Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf)

📚 Sumber: Majalah Asy Syariah || http://2.ly/zeZ

Posted by
🔸WhatsApp Salafy Indonesia🔸
# WhatsApp Salafy Lintas Pulau #

Kapan saja Rosulullah mengangkat tangannya pada saat berdo'a.


✅ Di Jawab Oleh Ustadz Yahya Al Lampungi hafizhahullah ✅

أما المسألة ما وجد مقتضاه في زمان النبي-صلى الله عليه و سلم- ولم يفعل ففعله بدعة فلا شك في هذا. لأنه إذا وجد سببه في زمان النبي- صلى الله عليه و سلم- ولم يفعله دل ذلك على أنه غير مشروع. إذ لو كان مشروعا لفعله النبي- صلى الله عليه و سلم- ومن ذلك مثلا رفع اليدين في الدعاء في المواطن التى ورد أن النبي-صلى الله عليه و سلم- دعا فيها ولم يرفع. المقتضي موجود وهو طلب الاستجابة ولكن النبي-صلى الله عليه و سلم- لم يرفع يديه فرفع اليدين في هذه المواطن بدعة.

Syaikh Dr Sulaiman ar Ruhaili mengatakan, “Amal ibadah yang di masa hidupnya Nabi telah dijumpai faktor pendorong untuk melakukannya namun ternyata Nabi tidak melakukannya maka melakukannya adalah bid’ah. Kaedah ini tidaklah diragukan kebenarannya. Karena di masa hidup Nabi sudah dijumpai sebab untuk melakukannya namun Nabi tidak melakukannya, hal ini menunjukkan bahwa hal itu tidak dituntunkan karena andai saja itu dituntunkan tentu saja Nabi akan melakukannya.

Contohnya adalah doa sambil angkat tangan dalam situasi yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ketika itu berdoa tanpa sambil angkat tangan. Faktor pendorong untuk mengangkat tangan ketika itu sudah ada yaitu keinginan agar doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah akan tetapi ternyata Nabi tidak mengangkat tangannya saat itu. Mengangkat tangan dalam kondisi ini hukumnya adalah bid’ah.

فمن جاء يرفع يديه في صلاة الجمعة وهو يخطب أو يؤمن على دعاء الخطيب هذا نقول هذه بدعة لأنه وجد سببها في زمان النبي-صلى الله عليه و سلم- ولم يفعله

Jika ada yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya saat menyampaikan khutbah Jumat atau saat mengamini doa khatib, kita katakan bahwa perbuatan ini hukumnya adalah bid’ah karena sebab untuk melakukannya sudah dijumpai di masa Nabi namun Nabi sendiri tidak melakukannya.

ولهذا من باب الفائدة:أقول: يقول أهل العلم الدعاء رفع اليدين في الدعاء له ثلاثة أحكام، سنة وبدعة ومستحب.

Oleh karena itu sebagai tambahan pengetahuan kami sampaikan bahwa para ulama menjelaskan bahwa angkat tangan ketika berdoa itu memiliki tiga status hukum, sunnah, bid’ah dan mustahab (dianjurkan).

أما السنية فهي المواطن التي ثبث أن النبي- صلى الله عليه و سلم- رفع فيها. فالرفع سنة، مجرد الرفع هذه العبادة، سنة تقتدي بالنبي- صلى الله عليه و سلم- مثل ما في الاستسقاء مثلا.

Angkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah manakala dilakukan pada sikon yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi mengangkat tangannya sambil berdoa ketika itu. Dalam hal ini, mengangkat tangan adalah sunnah Nabi. Mengangkat tangan dalam kondisi ini adalah ibadah. Sejalan dengan sunnah manakala anda meneladani Nabi semisal angkat tangan ketika doa untuk meminta hujan.

والبدعة في المواطن التي ثبت أن النبي-صلى الله عليه و سلم- دعا ولم يرفع مثل الدعاء في الجمعة ومثل الدعاء عند الطواف تجد أن بعض المسلمين يمشي ويطوف حول الكعبة ويرفع يديه يدعو، هذا بدعة لأنه ثبت عن النبي-صلى الله عليه و سلم- الدعاء ولم يثبت أنه رفع.

Mengangkat tangan dalam doa adalah bidah manakala dilakukan pada kondisi tertentu yang Nabi ketika itu berdoa namun beliau tidak mengangkat tangannya saat itu semisal doa dalam khutbah Jumat dan doa saat tawaf. Kita jumpai sebagian kaum muslimin ketika berjalan mengelilingi Ka’bah mereka berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Perbuatan ini adalah bid’ah karena Nabi berdoa ketika melakukan tawaf akan tetapi beliau tidak mengangkat tangannya.

ومستحب في المواطن التي لم يثبت عن النبي- صلى الله عليه و سلم- أنه دعا فيها فإن رفع اليدين في الدعاء مستحب لأنه ثبت أنه من أسباب الإجابة وفعل ما يقتضي الإجابة مستحب، فيستحب للإنسان إذا دعا دعاء مطلقا أن يرفع يديه لأنها من أسباب الإجابة.

Angkat tangan ketika berdoa adalah dianjurkan manakala dilakukan pada situasi yang tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi berdoa ketika itu. Angkat tangan ketika berdoa adalah amalan yang dianjurkan karena terdapat hadits sahih yang menjelaskan bahwa angkat tangan dalam doa adalah salah satu sebab dikabulkannya doa dan melakukan hal yang menyebabkan doa dikabulkan adalah suatu hal yang dianjurkan. Sehingga dianjurkan bagi orang yang berdoa dengan doa mutlak [baca: doa masalah] untuk mengangkat kedua tangannya karena hal tersebut adalah salah satu sebab dikabulkannya doa.

كذا، كل دعاء ثبت عن النبي-صلى الله عليه و سلم- ولم يثبت أنه رفع فالرفع بدعة. وكل دعاء ثبت عن النبي-صلى الله عليه و سلم- أنه دعا ورفع فالرفع سنة كما في الدعاء بعد رمي الجمر كما في الدعاء علي الصفا والمروة ونحو هذا

Demikianlah, semua doa yang sahih dari Nabi namun ketika itu beliau tidak mengangkat tangannya maka mengangkat tangan saat itu hukumnya adalah bid’ah.

Sebaliknya, semua doa yang riwayat yang sahih menunjukkan bahwa Nabi berdoa ketika itu sambil mengangkat kedua tangannya maka mengangkat tangan saat itu adalah sunnah Nabi semisal doa setelah melempar jumrah [ula dan wustho, pent] dan doa saat berada di bukit Shafa dan Marwa ketika melakukan sai”

📜Penjelasan di atas disampaikan oleh Syaikh Sulaiman ar Ruhaili pada sesi tanya jawab dalam daurah beliau yang mengkaji kitab Qawaid Nuraniyyah karya Ibnu Taimiyyah.

🌿🌿🌿
F.I.S Forum Ikhwah Salafy
منتدى الإخوان السلفيين

Salafy Lintas Pulau

{MANHAJ}- Al Jarh waTa'dil belum berkhir sampai hari kiamat


:قال الشيخ ربيع المدخلي رحمه الله 

منهاج الجرح والتعديل لم ينته إل يوم القيامة ، ما دامت توجد -

البدع -

وتوجد الشعارات الضالة، -

ولها دعاة وأئمة ضلال -

لم ينته إلى يوم القيامة وإنه لمن الجهاد بل أفضل من -

الضرب بالسيوف -

( أسئلة أبي رواحة ص ٢٧)

Berkata Asy Syaikh Rabi' Al Madkhali hafizhahullah:

-"Manhaj Al Jarh wat ta'dil belum berakhir sampai hari kiamat, selama masih di dapati

-bid'ah-bid'ah,

-syi'ar-syi'ar kesesatan

-dan padanya ada da'i-da'i dan imam-imam sesat,

-belum berakhir sampai hari kiamat, dan sesungguhnya (manhaj al jarh wa ta'dil) benar-benar bagian dari jihad bahkan jihad yang paling utama dari pada

-jihad dengan tebasan pedang."

As-ilah Abi Rawahah hal 27


F.I.S Forum Ikhwah Salafy
منتدى الإخوان السلفيين

Copyright: http://salafykolaka.net