Sabtu, 17 September 2016

{ Fiqhi Sholat }- CARA DUDUK TASYAHHUD AKHIR DALAM SETIAP SHOLAT

CARA DUDUK TASYAHHUD AKHIR DALAM SETIAP SHOLAT

September 21, 2012 admin Fiqih

بسم الله الرحمن الرحيم

Pendahuluan

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه، وعلى آله وصحبه وسلم.
أما بعد:

Sesungguhnya salah satu upaya menghindarkan diri dari fitnah yang melanda disetiap zaman adalah menyibukkan diri dalam menuntut ilmu, menghafal, muraja’ah, belajar , dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada yang lain, yang dengannya seseorang dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda:

(( نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ )).

“Semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada seseorang yang mendengar dari kami satu hadits, lalu dia menghafalnya, hingga dia menyampaikan kepada yang lainnya. Boleh jadi orang yang membawa fiqih menyampaikan kepada yang lebih faqih, dan boleh jadi orang yang membawa fiqih tersebut tidak faqih.”

(HR. Tirmidzi (2656), Abu Dawud (3660), Ibnu Majah (230), dari hadits Zaid bin Tsabit – radhiyallahu ‘anhu – . Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Dan risalah kecil ini merupakan salah satu risalah yang bersifat ilmiah untuk membuka wawasan ilmu fiqih yang ada pada kaum muslimin, sebagai pencerahan intelektual yang menuntut seorang muslim, khususnya kalangan para penuntut ilmu syar’i untuk bisa memahami setiap masalah hukum berdasarkan dalil-dalil dari sumbernya yang jernih, yaitu Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah Nabawiyyah yang shahih. Risalah ini menjelaskan tentang hukum dan tata cara duduk yang benar didalam shalat, disaat seorang yang melakukan shalat duduk pada tahiyyat akhir, dari shalat yang wajib maupun nafilah (sunnah), baik shalat yang berjumlah satu raka’at, dua raka’at, tiga raka’at dan seterusnya, baik shalat yang memiliki satu tasyahhud maupun dua tasyahhud. Dimana kita menyaksikan adanya perbedaan cara yang diamalkan kaum muslimin dalam cara duduk mereka, ada yang duduk iftirasy pada setiap shalat yang berjumlah dua raka’at, atau yang memiliki satu tasyahhud, dan ada pula yang melakukannya dengan cara duduk tawarruk. Sehingga sebagian kaum muslimin mempertanyakan tentang hal ini, apakah landasan masing-masing mereka yang melakukan cara duduk yang berbeda? Manakah yang benar?, manakah yang lebih sesuai dengan dalil?, apakah keduanya memang disebutkan dalam hadits? Dan yang semisalnya dari berbagai pertanyaan yang kerap diajukan kepada kami. Terlebih disaat sebagian kaum muslimin yang sudah terbiasa semenjak kecil dengan cara duduk tertentu, lalu kemudian merasa heran dengan cara yang dilakukan sebagian mereka yang shalat dengan cara duduk yang berbeda. Sehingga hal ini mendorong kami untuk mengeluarkan risalah kecil ini, agar bermanfaat bagi mereka yang ingin melihat permasalahan ini dengan kacamata ilmiah.

Memang ada sebagian para penuntut ilmu yang telah menulis tentang masalah ini walaupun dengan cara yang ringkas – semoga Allah membalas kebaikan mereka -, dan penulis juga memahami bahwa mungkin tulisan ini bersifat penjelasan, sekaligus bantahan terhadap sebagian tulisan tersebut, yang pada hakekatnya tidak memberikan hak yang semestinya terhadap bahasan ini.

Yang jelas, penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjelaskan masalah ini dengan cara ilmiah. Namun sebagai manusia biasa, keadaanya seperti kata pepatah “tiada gading yang tak retak”, sehingga kalau di dalamnya ada kekeliruan, baik isi maupun penulisan, kami dengan lapang dada menerima kritikan tersebut, dan semoga itu menjadi pahala tersendiri untuknya disisi Allah – jalla jalalahu -.

Balikpapan, Ma’had Ibnul Qoyyim
28 Sya’ban 1428 H

Abu Karimah Askari bin Jamal

============================

Pendapat Para Ulama’ dalam Masalah Cara Duduk Tasyahhud :

Sebelum kita menyebut pendapat yang terkuat dalam masalah duduk pada tasyahhud akhir disetiap shalat, hendaknya kita mengetahui perselisihan yang terjadi dikalangan para ulama dalam masalah ini. Para Ulama telah berselisih pendapat dalam masalah cara duduk tasyahhud secara umum, baik tasyahhud yang pertama maupun tasyahhud yang terakhir menjadi beberapa pendapat:

Pendapat Pertama: pendapat Imam Malik. Beliau mengatakan: Dianjurkan untuk duduk tawarruk dalam setiap keadaan duduk dalam shalat, apakah pada tasyahhud pertama, atau terakhir, dan pada duduk diantara dua sujud. Dan tidak ada perbedaan antara duduk tersebut, sebagaimana tidak ada perbedaan pula antara duduk laki-laki dan duduk wanita.

Pendapat Kedua: pendapat Imam Hanafi dan para pengikutnya, dan juga pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Hasan bin Shaleh, Abdullah bin Mubarak, mereka mengatakan: dianjurkan duduk iftirasy pada semua keadaan duduk, baik duduk diantara dua sujud, tasyahhud yang pertama dan terakhir. Ini berkenaan tentang duduk laki-laki. Adapun duduk wanita, maka dia duduk dengan cara yang paling mudah baginya. Dan diriwayatkan dari Asy-Sya’bi.

Pendapat Ketiga: pendapat Imam Ahmad dan para pengikutnya, dan juga pendapat Dawud dan Ishaq bin Rahuyah, mereka mengatakan: Berbeda antara shalat yang memiliki satu tasyahhud dengan shalat yang memiliki dua tasyahhud. Adapun shalat yang memiliki satu tasyahhud maka duduk akhirnya sama dengan cara duduk diantara dua sujud, yaitu dengan iftirasy, adapun bila shalatnya memiliki dua tasyahhud, maka pada tasyahhud pertama dengan cara iftirasy, sedangkan yang kedua dengan cara tawarruk. Dan ini merupakan pendapat yang paling masyhur dari Imam Ahmad. Dan dalam riwayat Al-Atsram bahwa Imam Ahmad menyebutkan secara nash tentang bolehnya duduk tawarruk pada tasyahhud yang dia mengucapkan salam padanya dari shalat dua raka’at, namun beliau mengatakan: Bahwa duduk iftirasy lebih afdhal.
(Lihat : Fathul Bari, Ibnu rajab Al-Hanbali: 5/164).

Pendapat keempat: pendapat Imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya. Mereka mengatakan: Duduk yang bukan duduk akhir, dengan cara iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tasyahhud akhir, dengan cara tawarruk. Dan tidak ada perbedaan antara shalat yang memiliki dua tasyahhud ataupun satu tasyahhud. Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm.

Pendapat Kelima: Adalah pendapat At-Thabari, yang mengatakan bolehnya memilih cara duduk yang mana saja yang dia inginkan yang ada dalilnya dari Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – . Dan Ibnu Abdil Barr lebih condong kepada pendapat ini, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya “At-Tamhid”.

============================

Alasan Masing-masing Pendapat

• Alasan Pendapat Pertama :

Al-Malikiyyah membangun pendapatnya tersebut kepada hadits yang shahih dari Abdullah bin ‘Umar – radhiyallahu ‘anhuma – dimana beliau berkata:

إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى.

“Sesungguhnya sunnahnya shalat (ketika duduk) adalah engkau menegakkan kaki kananmu dan menghamparkan (kaki) kirimu”
(HR. Bukhari: /827, bersama Fathul Bari).

Dalam riwayat Imam Malik dalam “Al-Muwaththa”, dalam Bab: Al-‘Amal Fil Juluus Fis Shalaah (188), dari Yahya bin Sa’id bahwa Al-Qasim bin Muhammad memperlihatkan kepada mereka cara duduk ketika tasyahhud, lalu beliau menegakkan kaki kanannya dan menghamparkan kaki kirinya, dan duduk di atas warik (warik adalah bagian atas paha) kirinya dan tidak duduk di atas kakinya. Lalu dia berkata: Abdullah bin Abdullah bin ‘Umar telah memperlihatkan kepadaku demikian, dan mengabariku bahwa ayahnya (Abdullah bin ‘Umar) melakukan yang demikian itu.

Yang menjadi syahid dari hadits ini dimana Abdullah bin ‘Umar mengajarkan bahwa duduk yang disyariatkan adalah duduk tawarruk, dan tidak disebutkan apakah duduk tersebut di awal ataukah di akhir yang menunjukkan keumuman lafadz hadits tersebut. Dan perkataan beliau “sunnahnya shalat” menunjukkan bahwa beliau menyandarkan hal tersebut kepada Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – , sebagaimana yang telah diketahui dalam ilmu musthalahul hadits.

Diantara dalil yang mereka sebutkan pula adalah hadits Abdullah bin Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu – bahwa beliau berkata:

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِي آخِرِهَا قَالَ فَكَانَ يَقُولُ إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى….. الحديث.

“Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – mengajarkan tasyahhud kepadaku dipertengahan shalat dan di akhirnya. Lalu berkata: Adalah beliau mengucapkan jika duduk dipertengahan shalat dan di akhir shalat di atas warik (bagian atas paha/bokong)-nya yang kiri…” Al-Hadits.
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 1/459).

Yang menjadi syahid dari hadits ini adalah penyebutan duduk tawarruk baik dipertengahan shalat maupun diakhir shalat.

• Alasan Pendapat Ke dua :

Al-Hanafiyyah yang berpendapat bahwa semua keadaan duduk dilakukan dengan cara iftirasy, berdalil dengan hadits ‘Aisyah bahwa beliau berkata:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى.

“Adalah beliau (Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ) mengucapkan tahiyyat pada setiap dua raka’at, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy).”
(HR. Muslim: Bab : Maa Yajma’u Shifatas Shalaah: 1/498).

Juga berdasarkan hadits Wail bin Hujr – radhiyallahu ‘anhu – bahwa beliau berkata:

« رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى ».

“Aku melihat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ketika duduk dalam shalat, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.”
(HR. Ibnu Khuzaimah (1/691), Al-Baihaqi (2/72), Ahmad (4/316), At-Thabrani (22/33).

Dalam riwayat Tirmidzi dengan lafadz:

فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Maka tatkala beliau duduk untuk tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya , dan menegakkan kaki kanannya.”
(HR. Tirmidzi: 2/292).

Demikian pula diriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari ayahnya berkata:

« كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ اْليُسْرَى ، وَنَصَبَ اْليُمْنَى »

“Adalah Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – jika duduk pada dua raka’at, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan.”
(HR. Ibnu Hibban: 5/1943).

Yang menjadi syahid dari beberapa riwayat tersebut di atas adalah penyebutan duduk iftirasy disaat duduk ketika shalat, baik diwaktu tasyahhud maupun bukan, dan baik diraka’at terakhir atau tidak.

• Alasan Pendapat Ke tiga dan Ke empat :

Sebelum kita membahas dalil masing-masing dari kedua pendapat, yaitu antara madzhab Imam Ahmad dan Imam Syafi’i, terlebih dahulu kita fahami bahwa kedua pendapat ini memiliki persamaan dalam satu sisi, dan berbeda pandangan dari sisi yang lain:

-adapun persamaan kedua pendapat ini adalah bahwa kedua-duanya menggabungkan seluruh riwayat yang datang menjelaskan tentang kedua jenis duduk tersebut, yaitu duduk iftirasy dan juga duduk tawarruk. Sehingga semua dalil yang dijadikan alasan oleh madzhab Malikiyyah dan juga Al-Hanafiyyah, diamalkan oleh Imam Ahmad dan juga Imam Syafi’i. Dan mereka juga sepakat dalam hal duduk tasyahhud awal yang tidak ada salam setelahnya.
(Fathul Bari, Ibnu Rajab Al-Hanbali: 5/162. cetakan: daru Ibnul jauzi, cetakan kedua, tahun 1422 H).

-sedangkan letak perbedaannya, adalah dalam menyikapi duduk akhir antara shalat yang memiliki satu tasyahhud dengan shalat yang memiliki dua tasyahhud, sebagaimana yang kami terangkan di atas.

Jika kita telah memahami perkara ini, maka jelaslah bahwa untuk menyebutkan alasan dan dalil dari pendapat Imam Ahmad dan Imam Syafi’i, adalah berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih yang telah disebutkan pada kedua madzhab, yaitu madzhab Imam Malik dan Abu Hanifah. Dan ditambah lagi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari – rahimahullah – dalam shahihnya dari Muhammad bin Amr bin Atha’ bahwa beliau pernah duduk bersama beberapa orang dari shahabat Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam -[1] . Lalu kamipun menyebutkan tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – . Lalu berkata Abu Humaid As-Sa’idi :

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

” Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk).
(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Adzan, Bab: Sunnatul Julus Fis Shalaah: 2/828).

Berkata Al-Hafidz: ”dan dalam riwayat Abdul Hamid [2] dengan lafadz:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي يَكُوْنُ فِيْهَا التَّسْلِيْمُ.

” Jika pada raka’at yang terdapat padanya salam”,

dan dalam riwayat Ibnu Hibban:

الَّتِي تَكُوْنُ خَاتِمَةُ الصَّلاَةِ أَخْرَجَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شَقِّهِ اْلأَيْسَرِ.

”(Raka’at) yang menjadi penutup shalat, maka beliau mengeluarkan kaki kiri dan duduk dengan tawarruk diatas sisi kirinya.”

Ditambah oleh Ibnu Ishaq dalam riwayatnya: ”Lalu beliau mengucapkan salam”, dan dalam riwayatnya dalam riwayat At-Thahawi: ”Tatkala mengucapkan salam, maka dia salam kesebelah kanannya “salaamun ‘alaikum warahmatullah, dan kesebelah kirinya pun seperti itu juga”. Dan dalam riwayat Abu Ashim dari Abdul Hamid dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya: Mereka berkata -yaitu para shahabat yang disebutkan- engkau telah benar, memang demikian beliau shalat.”
(Fathul bari:2/360).

Berkata penulis – semoga Allah mengampuninya – : Dan juga dalam riwayat Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa (192), dengan lafadz:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ اْلقَعْدَةُ الَّتِي فِيْهَا اْلتَسْلِيْمُ أَخْرَجَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَجَلَسَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شَقِّهِ اْلأَيْسَرِ.

“Sehingga pada duduk yang padanya terdapat salam, maka beliau menggeser kaki kirinya dan duduk dengan cara tawarruk diatas sisi kirinya.”
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (1/587), dan Tirmidzi (304), Ahmad 5/424), dengan lafadz:

حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيْهَا الصَّلاَةُ.

“Sehingga pada raka’at yang diselesaikannya shalat padanya”,
dan dalam riwayat An-Nasaai (1262), dengan lafadz:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيهِمَا الصَّلاَةُ.

“Adalah Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – jika pada dua raka’at yang pada keduanya berakhir shalat”.

============================

Kelemahan Pendapat Al-Malikiyyah dan Al-Hanafiyyah

Kedua pendapat tersebut adalah pendapat yang lemah, hal ini disebabkan karena mereka memandang kepada hadits-hadits yang datang dari Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang menjelaskan tentang salah satu cara duduk beliau , tanpa menoleh kepada hadits-hadits yang lain yang menjelaskan tentang cara duduk yang berbeda. Sehingga kalau kita mengamalkan seperti amalan madzhab Malikiyyah, berarti kita tidak mengamalkan hadits-hadits yang menyebutkan tata cara duduk iftirasy, demikian pula halnya jika kita mengamalkan seperti amalan madzhab Al-Hanafiyyah, berarti kita meninggalkan beramal dengan hadits-hadits yang menjelaskan tentang cara duduk tawarruk.

Berkata Abul Ula Al-Mubarakfuri:

وَاْلحَاصِلُ أَنَّهُ لَيْسَ نَصٌّ صَرِيْحٌ فِيْمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مَالِكٌ وَمَنْ مَعَهُ وَلاَ فِيْمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَمَنْ مَعَهُ, وَأَمَّا مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَمَنْ مَعَهُ فَفِيْهِ نَصٌّ صَرِيْحٌ فِهذاَ اْلمَذْهَبُ الرَّاجِحُ.

“kesimpulannya bahwa tidak terdapat nash yang jelas dari apa yang menjadi pegangan Imam Malik dan yang bersamanya, dan tidak pula apa yang menjadi pegangan Abu Hanifah dan yang bersamanya. Adapun yang menjadi pendapat Imam Syafi’i dan yang bersamanya, maka padanya terdapat nash yang jelas , maka inilah madzhab yang kuat.”
(Tuhfatul Ahwadzi: 2/155).

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Hazm – rahimahullah – setelah menyebutkan madzhab Imam Malik dan Abu Hanifah:

” وَعَلَى كِلاَ اْلقَوْلَيْنِ خَطَأٌ وَخِلاَفٌ لِلسُّنَّةِ الثَّابِتَةِ الَّتِي أَورَدْنَا – يَعْنِي حَدِيْث أَبِي حُمَيْدٍ – ”

“Dan kedua pendapat tersebut salah,dan menyelisihi sunnah yang tsabit yang telah kami sebutkan (yaitu hadits Abu Humaid)”.
(Al-Muhalla, Ibnu Hazm: 4/127).

Terkhusus riwayat Abdullah bin Mas’ud yang dijadikan pegangan oleh madzhab Malikiyyah tentang duduk tawarruk pada awal atau akhir shalat, adalah riwayat yang berasal dari jalan Muhammad bin Ishaq bin Yasar, ia berkata: Abdurrahman bin Al-Aswad bin Yazid An-Nakha’i telah memberitakan kepadaku tentang tasyahhud Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dipertengahan shalat dan diakhirnya, dari ayahnya dari Abdullah bin Mas’ud……Al-Hadits.

Muhammad bin Ishaq tersebut di atas, meskipun dia seorang perawi yang jujur, yang asal hukum riwayatnya dihasankan, namun dalam riwayat ini dia telah menyelisihi para perawi yang lebih terpercaya, yang meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud tersebut tanpa menyebutkan lafadz “duduk dipertengahan shalat dan di akhirnya” seperti yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq.

Berkata Adz-Dzahabi:
“Yang nampak bagiku bahwa Ibnu Ishaq adalah hasan haditsnya. Keadaannya baik, jujur, dan apa yang ia bersendiri pada (riwayatnya), terdapat kemungkaran padanya, karena pada hafalannya ada sesuatu (berupa kelemahan).”

Oleh karena itu, Syaikh Al-Albani juga menghukumi hadits ini sebagai hadits yang mungkar.
(Lihat kitab: Ashlu Shifat Shalaat An-Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, karya Al-Albani – rahimahullah -: 3/832).

============================

Tarjih Antara Madzhab Imam Ahmad dan Imam Syafi’i

Barangsiapa yang memperhatikan kedua pendapat tersebut, dia akan mengetahui bahwa pendapat Imam Syafi’i merupakan pendapat yang lebih mendekati kebenaran dan yang berjalan bersama dalil. Hal ini dapat terlihat dari hadits Abu Humaid As-Sa’idi – radhiyallahu ‘anhu -, yang menjelaskan tentang tata cara shalat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – secara terperinci. Berikut ini penjelasan tentang hadits tersebut:

Abu Humaid membedakan antara duduk diakhir shalat dengan duduk yang bukan diakhir shalat. Tatkala beliau menjelaskan tentang duduk yang bukan akhir shalat, beliau menyebutnya dengan lafadz “Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy)”. Dari lafadz ini menunjukkan bahwa duduk iftirasy dilakukan dipertengahan shalat, dan bukan akhir shalat. Lafadz “dua raka’at” bukanlah maksud dari riwayat ini, namun maksudnya adalah “raka’at yang bukan akhir shalat”. Berdasarkan beberapa alasan berikut:

Pertama: Mafhum dari lafadz setelahnya “Dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir” menunjukkan bahwa lafadz sebelumnya bermakna yang bukan raka’at terakhir.

Kedua: Mafhum Al-‘Adad menurut para ahli ushul termasuk diantara dalil yang paling lemah. Yang dimaksud Mafhum Al-‘Adad adalah menyandarkan satu hukum kepada bilangan tertentu yang disebut dalam sebuah nash. Seperti contoh, firman Allah Ta’ala:

{ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً } .

“Maka cambuklah mereka delapan puluh kali cambukan” (QS. An-Nur: 4).

Maka difahami dari ayat ini bahwa pencambukan tersebut dilakukan sebanyak delapan puluh kali, tidak lebih dan tidak pula kurang dari jumlah tersebut. Namun pemahaman ini tidak sepenuhnya bisa dijadikan dalil pada setiap tempat, namun harus dikembalikan kepada penguat (qorinah) yang ada. Seperti contoh hadits Abu Hurairah bahwa beliau berkata:

كَانَ لِسُلَيْمَانَ سِتُّونَ امْرَأَةً فَقَالَ لأَطُوفَنَّ عَلَيْهِنَّ اللَّيْلَةَ فَتَحْمِلُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ فَتَلِدُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُلاَمًا فَارِسًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَمْ تَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلاَّ وَاحِدَةٌ فَوَلَدَتْ نِصْفَ إِنْسَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ اسْتَثْنَى لَوَلَدَتْ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُلاَمًا فَارِسًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

“Sulaiman memiliki 60 istri, lalu beliau mengatakan: Saya akan berkeliling mendatangi mereka pada malam hari ini, sehingga setiap dari mereka mengandung, lalu setiap dari mereka melahirkan seorang anak yang menjadi penunggang kuda yang akan berperang dijalan Allah. Namun tidak ada yang hamil dari mereka kecuali satu orang yang kemudian melahirkan setengah manusia. Maka Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda: Sekiranya ia mengatakan “insya Allah” , niscaya akan melahirkan setiap mereka seorang anak lelaki yang menjadi penunggang kuda dijalan Allah.”
(HR. Muslim, Kitabul Aymaan, Bab: Al-Istitsnaa’: 1654).

Perhatikan penyebutan jumlah 60 istri dalam hadits ini tidak menunjukkan bahwa istri beliau tidak lebih dari itu, berdasarkan riwayat-riwayat lain yang menyebutkan jumlah yang berbeda dari yang disebutkan dalam hadits ini. Berkata An-Nawawi tatkala mengomentari hadits ini:

وَفِي رِوَايَةٍ : (( سَبْعُونَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : (( تِسْعُونَ )) وَفِي غَيْرِ صَحِيحِ مُسْلِمٍ (( تِسْعٌ وَتِسْعُونَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : (( مِائَةٌ )) . هَذَا كُلُّهُ لَيْسَ بِمُتَعَارِضٍ لأَنَّهُ لَيْسَ فِي ذِكْرِ الْقَلِيْلِ نَفْي الْكَثِيْرِ ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَان هَذَا مَرَّات ، وَهُوَ مِنْ مَفْهُومِ الْعَدَدِ ، وَلاَ يُعْمَلُ بِهِ عِنْدَ جَمَاهِيْرِ اْلأُصُولِيِّينَ.

“Dalam satu riwayat “70”, dan dalam riwayat lain “90”, dan dalam riwayat di luar shahih Muslim “99”, dan dalam riwayat lain “100”. Ini semua tidak bertentangan, sebab penyebutan bilangan yang sedikit tidak menafikan yang banyak. Dan telah berkali-kali penjelasan tentang hal ini. Dan ini termasuk mafhum al-‘adad, dan itu tidak diamalkan menurut kebanyakan dari para ahli ushul”.
(Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi: 11/120).

Al-Hafidz Ibnu Hajar juga mengatakan :

وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ دَلاَلَةَ مَفْهُوم الْعَدَدِ لَيْسَتْ يَقِيْنِيَّة إِنَّمَا هِيَ مُحْتَمَلَةٌ

“Dan yang benar bahwa penunjukan mafhum al-‘adad tidaklah yakin, namun hanya bersifat kemungkinan”.
(Fathul Bari: 3/146).

Jika kita telah memahami hal ini, maka penyebutan “dua raka’at” yang tersebut dalam hadits ini bukanlah maksud, namun maknanya adalah “duduk yang bukan raka’at terakhir”. Dan semakin dikuatkan dengan hadits Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau bersabda:

(( فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ)).

“Maka jika engkau duduk di pertengahan shalat, maka lakukanlah thuma’ninah, dan hamparkan paha kirimu – agar engkau duduk diatasnya – (duduk iftirasy), lalu lakukanlah tasyahhud”
(HR. Abu Dawud dari Rifa’ah bin Rafi’, dan Al-Albani berkata: sanadnya hasan. Lihat kitab: Aslu Shifatis Shalaah, Al-Albani: 3/831-832).

Maka hadits ini menjelaskan tentang keadaan duduk iftirasy tersebut dilakukan dipertengahan shalat, sedangkan lafadz hadits Abu Humaid “dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir”, dengan berbagai lafadznya merupakan nash yang bersifat manthuq sharih (yaitu penunjukkan lafadz yang sesuai pada peletakannya), dan manthuq lebih didahulukan daripada mafhum. Wallahul muwaffiq.

Adapun hadits Aisyah, Wail bin Hujr dan Abdullah bin Zubair, yang menjelaskan tentang duduk iftirasy, tidak menyebutkan secara terperinci apakah duduk tersebut dilakukan pada pertengahan shalat ataukah pada akhirnya, yang menunjukkan bahwa hadits tersebut global dan tidak tafshil (terperinci). Jika kita beramal berdasarkan keumuman duduk iftirasy dalam hadits tersebut, lalu bagaimana dengan keumuman hadits Abdullah bin ‘Umar yang menyebutkan duduk tawarruk dalam shalat dan tidak merinci apakah duduk dipertengahan shalat ataukah di akhir shalat.

Jika ada yang berkata: Hadits Wail bin Hujr dan yang semisalnya menyebutkan cara duduk pada shalat dua raka’at, yang menunjukkan keumuman setiap shalat dua raka’at.

Maka kami menjawab: Hadits Ibnu ‘Umar lebih umum lagi, dimana Ibnu ‘Umar mengatakan “sesungguhnya sunnahnya shalat (ketika duduk)” dan beliau tidak menyebutkan raka’at ke berapa, dan shalatnya berapa raka’at. Maka jika anda beramal dengan keumuman hadits Wail dan yang semisalnya, maka amalkan pula hadits Abdullah bin ‘Umar secara umum,dengan duduk tawarruk pada setiap duduk ketika shalat.

Demikian pula, kita mengetahui bahwa shalat yang memiliki satu tasyahhud bukan hanya shalat yang berjumlah dua raka’at, namun disana ada shalat yang berjumlah satu raka’at saja, seperti shalat witir, ada pula shalat tiga rakaat dengan satu tasyahhud, empat raka’at dengan satu tasyahhud, lima raka’at dengan satu tasyahhud, tujuh raka’at dimana beliau duduk tasyahhud pada raka’at keenam dan tidak salam, lalu bangkit menuju raka’at yang ketujuh lalu salam, Sembilan raka’at dan beliau duduk diraka’at yang kedelapan dan tidak salam, lalu melanjutkan keraka’at yang kesembilan lalu salam. Nah, bagaimana anda menyikapi shalat tersebut? Sementara shalat tersebut hanya menyebutkan shalat yang “dua raka’at”. Namun jika kita memahaminya sebagaimana yang difahami oleh Imam Asy-Syafi’i – rahimahullah Ta’ala -, maka setiap permasalahan tentang tata cara duduk tersebut dapat difahami dengan baik berdasarkan hadits-hadits yang datang menjelasakan tentang permasalahan ini.

Kesimpulannya bahwa hadits Abu Humaid – radhiyallahu ‘anhu – adalah hadits yang menjelaskan tentang tata cara Shalat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – pada seluruh shalat, apakah itu shalat yang memiliki satu tasyahhud, maupun yang memiliki dua tasyahhud. Jika duduk dilakukan dipertengahan shalat, maka yang dilakukan adalah duduk iftirasy, dan jika duduk dilakukan pada akhir shalat, maka yang dilakukan adalah duduk tawarruk. Sedangkan selain hadits Abu Humaid merupakan hadits yang bersifat umum, maka hadits yang bersifat umum/global tersebut semestinya dibawa kepada hadits Abu Humaid yang merinci dan menjelaskan. Wallahul muwaffiq.

Dan dari kesimpulan ini juga menunjukkan lemahnya pendapat kelima yang mengatakan bolehnya memilih duduk mana saja yang dia inginkan.

============================

Perkataan Para Ulama’ yang Menguatkan Pendapat Imam Syafi’i

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar – rahimahullah – :

وَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ حُجَّةٌ قَوِيَّةٌ لِلشَّافِعِيِّ وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ فِي أَنَّ هَيْئَةَ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَوَّلِ مُغَايِرَةٌ لِهَيْئَةِ الْجُلُوسِ فِي اْلأَخِيْرِ ، وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ فَقَالُوا : يُسَوِّي بَيْنهمَا ، لَكِنْ قَالَ الْمَالِكِيَّةُ : يَتَوَرَّكُ فِيهِمَا كَمَا جَاءَ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ ، وَعَكَسَهُ اْلآخَرُونَ.
ثُمَّ قَالَ : وَاسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ أَيْضًا عَلَى أَنَّ تَشَهُّدَ الصُّبْحِ كَالتَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ مِنْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ قَوْلِهُ ” فِي الرَّكْعَةِ اْلأَخِيْرَةِ ” ، وَاخْتَلَفَ فِيهِ قَوْل أَحْمَدَ ، وَالْمَشْهُورُ عَنْهُ اِخْتِصَاصُ التَّوَرُّكِ بِالصَّلاَةِ الَّتِي فِيهَا تَشَهُّدَانِ.

“Dalam hadits ini merupakan hujjah yang kuat bagi Imam Asy-Syafi’i dan yang sependapat dengannya bahwa keadaan duduk pada raka’at yang pertama berbeda dengan duduk pada raka’at terakhir. Dan Al-Malikiyyah dan Al-Hanafiyyah menyelisihi hal tersebut dan mengatakan: disamakan antara keduanya. Namun Al-malikiyyah mengatakan: dia bertawarruk pada dua duduk tersebut seperti yang terdapat pada tasyahhud akhir , sedangkan yang satunya (Al-Hanafiyyah) sebaliknya.
Lalu Al-Hafidz melanjutkan: dan Imam Syafi’i menjadikan ini sebagai dalil pula bahwa tasyahhud diwaktu subuh adalah seperti tasyahhud akhir yang berbeda dengan yang lainnya, berdasarkan keumuman perkataannya “pada raka’at terakhir”, dan diperselisihkan perkataan imam Ahmad padanya,dan yang masyhur dari beliau adalah duduk tawarruk dikhususkan pada shalat yang memiliki dua tasyahhud.
(Fathul Bari:2/360).

Berkata Imam Nawawi – rahimahullah Ta’ala – : berkata Imam Syafi’i dan pendukungnya:

فَحَدِيْثُ أَبِي حُمَيْدٍ وَأَصْحَابِهِ صَرِيْحٌ فِي اْلفَرْقِ بَيْنَ التَّشَهُّدَيْنِ. وَبَاقِيَ اْلأَحَادِيْثُ مُطْلَقَةٌ فَيَجِبُ حَمَلَهَا عَلَى مُوَافَقَتِهِ, فَمَنْ رَوَى التَّوَرُّكَ أَرَادَ اْلجُلُوْسَ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ, وَمَنْ رَوَى اْلاِفْتِرَاشَ أَرَادَ اْلأَوَّلَ. وَهذَا مُتَعَيِّنٌ لِلْجَمْعِ بَيْنَ اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ لاَ سِيَمَا وَحَدِيْثُ أَبِي حُمَيْدٍ وَافَقَهُ عَلَيْهِ عَشَرَةٌ مِنْ كِبَارِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. وَاللهُ أَعْلَمُ.

” Hadits Abu Humaid dan para shahabatnya jelas membedakan antara dua duduk tasyahhud, sedangkan hadits-hadits yang lainnya adalah hadits yang mutlak , sehingga wajib untuk difahami dengan yang sesuai, maka yang meriwayatkan hadits duduk tawarruk, maka yang dimaksud adalah duduk pada tasyahhud akhir, dan yang meriwayatkan duduk iftirasy , yang dimaksud adalah tasyahhud awal. dan harus dilakukan untuk menggabungkan antara hadits-hadits yang shahih , terlebih lagi hadits Abu Humaid As-Sa’idi telah disetujui oleh sepuluh orang dari para pembesar shahabat radhiallahu anhum. Wallahu a’lam”.
(Lihat Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 3/431. cetakan daar Ihyaa’ At Turats Al-‘Arabi, tahqiq Muhammad Najib Al-Muthi’i. Lihat pula dalam Syarah Muslim: 2/81)

Dan berkata Al-Mubarakfuri – rahimahullah – :

وَاْلإِنْصَافُ أَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ حَدِيثٌ يَدُلُّ صَرِيحًا عَلَى اِسْتِنَانِ الْجُلُوسِ عَلَى الرِّجْلِ الْيُسْرَى فِي الْقَعْدَةِ اْلأَخِيرَةِ ، وَحَدِيثُ أَبِي حُمَيْدٍ مُفَصَّلٌ فَلْيُحْمَلْ الْمُبْهَمُ عَلَى الْمُفَصَّلِ.

” Secara insaf bahwa tidak didapatkan satupun hadits yang menunjukkan secara jelas tentang disunnahkannya duduk diatas kaki kiri (duduk iftirasy, pen) pada duduk terakhir. Dan hadits Abu Humaid terperinci, sehingga yang global dibawa maknanya kepadanya yang terperinci”.
(Tuhfatul Ahwadzi: 2/156)

Berkata Abut Thayyib Aabadi – rahimahullah – :

وَفِي حَدِيث أَبِي حُمَيْدٍ حُجَّةٌ قَوِيَّةٌ صَرِيحَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَسْنُونَ فِي الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَوَّلِ الاِفْتِرَاشُ وَفِي الْجُلُوسِ فِي اْلأَخِيْرِ التَّوَرُّكُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيّ وَهُوَ الْحَقُّ عِنْدِي وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَم.

“Dalam hadits Abu Humaid merupakan hujjah yang kuat dan jelas bahwa yang disunnahkan duduk pada tasyahhud pertama dengan iftirasy dan pada duduk akhir dengan tawarruk. Dan ini adalah madzhab Syafi’i dan inilah yang benar menurutku. Wallahu ta’ala a’lam.
(Aunul Ma’bud: 3/171).

Asy-Syaukani – rahimahullah – mengatakan:

وَالتَّفْصِيلُ الَّذِي ذَهَبَ إلَيْهِ أَحْمَدُ يَرُدُّهُ قَوْلُ أَبِي حُمَيْدٍ فِي حَدِيثِهِ اْلآتِي )) فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلأَخِيرَةِ (( وَفِي رِوَايَةٍ ِلأَبِي دَاوُد )) حَتَّى إذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ ((.

“Dan rincian yang menjadi pendapat Imam Ahmad tertolak dengan ucapan Abu Humaid dalam haditsnya “jika duduk pada raka’at terakhir” dan pada riwayat Abu Dawud “hingga pada raka’at yang padanya terdapat salam”.
(Nailul Authar: 1/563) [3]

Dan pendapat Imam Syafi’i ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm – rahimahullah Ta’ala -. Berkata Ibnu Hazm – rahimahullah Ta’ala – :

” فَفِيْ الصَّلاَةِ أَرْبَعُ جَلَسَاتٍ : جِلْسَةُ بَيْنَ كُلِّ سَجْدَتَيْنِ, وَجِلْسَةُ إِثْرِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَّةِ مِنْ كُلِّ رَكْعَةٍ, وَجِلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ بَعْدَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ, يَقُوْمُ مِنْهَا إِلىَ الثَّالِثَةِ فِيْ اْلمَغْرِبِ, وَاْلحَاضِرُ فِيْ الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَاْلعِشَاءِ اْلآخِرَةِ, وَجِلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ فِيْ آخِرِ كُلِّ صَلاَةٍ, يُسَلِّمُ فِيْ آخِرِهَا. وَصِفَةُ جَمِيْعِ اْلجُلُوْسِ اْلمَذْكُوْرِ أَنْ يَجْعَلَ أَلِيْتِهِ اْليُسْرَى عَلَى بَاطِنِ قَدَمِهِ اْليُسْرَى مُفَتَرِشًا لِقَدَمِهِ, وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ اْليُمْنَى ,رَافِعًا لِعَقِبِهَا,مُجَلِّسُا لَهَا عَلَى بَاطِنِ أَصَابِعِها, إِلاَّ اْلجُلُوْس الّذِيْ يَلِي السَّلاَم مِنْ كُلِّ صَلاَةٍ, فَإِنَّ صِفَتَهُ أَنْ يَفْضِيَ بِمَقَاعِدِهِ إِلىَ مَا هُوَ جَالِسٌ عَلَيْهِ, وَلاَ يَجْلِس عَلىَ بَاطِنِ قَدَمِهِ فَقَطّ “.

“Di dalam shalat ada empat keadaan duduk: duduk diantara dua sujud, duduk setelah sujud kedua dari setiap raka’at (duduk istirahat-pen-), duduk tasyahhud setelah raka’at kedua, lalu bangkit menuju raka’at ketiga pada shalat maghrib, dan shalat muqim (tidak musafir) pada shalat dzuhur, Ashar dan Isya , dan duduk untuk tasyahhud pada akhir setiap shalat, yang dia mengucapkan salam pada akhirnya. Dan cara duduk semua duduk yang disebutkan adalah dengan menjadikan bokong kirinya berada di atas telapak kaki kirinya dengan menidurkan kakinya tersebut, dan menegakkan kaki kanannya, mengangkat tumitnya mendudukkannya diatas bagian dalam jari jemari (kakinya) tersebut (maksud beliau adalah duduk iftirasy -pen-). Kecuali duduk yang diikuti dengan salam dari setiap shalat, maka sesungguhnya caranya adalah dengan melekatkan tempat duduknya di bokongnya) ke tempat yang dia duduk di atasnya, dan tidak hanya duduk di atas telapak kakinya.”
(Al-Muhalla: 4/125).

Semoga penjelasan ini dapat kita fahami dengan baik dan memberikan tambahan ilmu kepada para pembaca sekalian. wallahul haadii ilaa sabiilir rasyaad.

============================

Kesimpulan

Dari apa yang telah kami paparkan dari pembahasan tersebut di atas, memberikan kesimpulan bahwa pendapat yang kuat dalam masalah ini adalam pendapat Imam Syafi’i dan yang bersamanya, yang menjelaskan bahwa cara duduk terakhir yang benar adalah duduk tawarruk, dan bukan duduk iftirasy.

Dan disaat kami menguatkan pendapat ini, bukan berarti kami mencela pendapat yang menyelisihi pendapat kami, apabila yang nampak baginya menyelisihi apa yang telah kami sebutkan, dan demikian pula sebaliknya. Namun bagi seorang muslim, setelah nampak baginya pendapat yang lebih kuat dalam satu masalah, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menyatakan “kebenaran lebih patut untuk diikuti”.

Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua, dan semoga Allah senantiasa memberikan istiqamah kepada kita, agar terus berjalan diatas jalan Allah – subhanahu wa ta’ala – , hingga kita bertemu dengan-Nya.

============================

Al-Maraji’:

1) Shahih Bukhari, bersama Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani.
2) Fathul Bari, Ibnu Rajab Al-Hanbali.
3) Shaih Muslim, bersama syarah Nawawi
4) Musnad Imam Ahmad.
5) Al-Muntaqa, Ibnul Jarud.
6) Al-Muwaththa’, Imam Malik.
7) Jami’ At-Tirmidzi, bersama Tuhfatul ahwadzi.
8) At-Tamhid, Ibnu Abdil Barr.
9) Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abi Dawud.
10) Al-Mujtaba, Imam An-Nasaai.
11) Sunan Ibnu majah.
12) Shahih Ibnu Khuzaimah.
13) Shahih Ibnu Hibban, bersama “Al-Ihsan”.
14) As-Sunan Al-kubra, Al-Baihaqi.
15) Al-Mu’jam Al-kabir, Ath-Thabrani.
16) Al-Muhalla, Abu Muhammad Ibnu Hazm.
17) Al-Majmu’, Syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi.
18) Al-Mughni, Ibnu Qudamah.
19) Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd.
20) Nailul Authar, Asy-Syaukani.
21) As-Sailul Jarrar, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani.
22) Ashlu Shifatis Shalaah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
23) Shalaat At-Taraawiih, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

============================

Foot Note :

[1] Namun Asy-Syaukani – rahimahullah – berpendapat bahwa boleh duduk iftirasy pada raka’at terakhir yang padanya terdapat dua tasyahhud, namun duduk tawarruk lebih afdhal, disebabkan karena hadits-hadits yang datang tentang duduk tawarruk lebih banyak dan lebih jelas.(lihat pula kitab : As-sailul jarrar, Asy-Syaukani: 1/220. Cetakan darul kutub al-ilmiyyah, cetakan pertama.

[2] Abdul Hamid yang dimaksud adalah Abdul Hamid bin Ja’far Al-Anshari Al-Ausi Abul Fadhl, yang meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Amr bin Atha’ dari Abu Humaid As-Sa’idi.

[3] Dalam riwayat lain: bersama sepuluh shahabat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa (192), Abu Dawud (963), At-Tirmidzi (304), Ibnu Majah (1061).
------------------------------
http://www.darussalaf.or.id/fiqih/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/?fdx_switcher=true

Copyright : 1437 H - 2016 M http:// salafykolaka.net

Kamis, 15 September 2016

{ TAHDZIR }- MANHAJ TAHDZIR ITU MEMPERSATUKAN UMAT BUKAN MEMECAH BELAH UMAT

MANHAJ TAHDZIR ITU MEMPERSATUKAN UMAT BUKAN MEMECAH BELAH UMAT

asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullaah.

PERTANYAAN: Apakah tahdzir (memperingatkan manusia) terhadap manhaj-manhaj yang menyimpang serta para da’inya dianggap mencerai beraikan kaum muslimin dan memecah-belah barisan mereka?

JAWABAN:

Tahdzir terhadap manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf adalah upaya menyatukan kaum muslimin dan bukan mencerai beraikan barisan mereka. Karena sesungguhnya yang memecah belah kaum muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf.

Sejak munculnya aliran-aliran yang menyelisihi manhaj salaf setelah generasi yang utama, para ulama terus-menerus memperingatkan manusia darinya dan menjelaskan kebatilan-kebatilannya. Beratus-ratus kitab mereka bisa dijadikan sebagai bukti atas hal itu, dan mereka tidak menganggapnya sebagai pemecah belah kaum muslimin. Bahkan hal itu dinilai sebagai nasehat bagi kaum muslimin dan untuk mempertahankan persatuan kalimatv mereka diatas kebenaran, dan dalam rangka membuang manhaj-manhaj yang menyelisihi al haq yang bisa mencerai-beraikan dan menjadikan mereka bergolong-golong dan berkelompok-kelompok.

Sumber: al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Mahahij al-Jadidah, soal no. 53, hlm. 106-107.

Alih Bahasa: Abu Utbah Miqdad hafizhahullaah.

----------------

Copyright : 1437 H - 2016 M http:// salafykolaka.net

[ Hujjah ]- SYAIKH BIN JIBRIN BERSIKERAS MEMBELA GEMBONG IKHWANI HASAN AL BANNA DALAM KEADAAN HUJJAH TELAH DITEGAKKAN OLEH ASY-SYAIKH RABI’

SYAIKH BIN JIBRIN BERSIKERAS MEMBELA GEMBONG IKHWANI HASAN AL BANNA DALAM KEADAAN HUJJAH TELAH DITEGAKKAN OLEH ASY-SYAIKH RABI’
Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ Al Madkhali hafidzahullah berkata :..

Bismillahirrahmanirrahim

Aku menghadiri suatu majelis di Madinah di rumahnya Imam Al Jarh wa At Ta’dil hafidzahullah wa ro’aah (Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali- pent) dan ketika itu Asy Syaikh Abdullah Al Jibrin yang sudah ma’ruf rahimahullah sedang bertamu kepadanya.

Syaikh Jibrin adalah seorang yang ahli dalam bidang fiqih, tauhid dan ilmu-ilmu lainnya, akan tetapi para pemuda ikhwani dan orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai da’i mengelilingi beliau dan mempengaruhinya. Dan Syaikh Jibrin mengokohkan mereka dan membela mereka, menentang ucapan salafiyyin dan mencela Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahmatullah alaihima jami’an.

Pokok pembicaraannya adalah : pada pertemuan tersebut Syaikh Rabi’ menyodorkan sebuah kitab penulisnya adalah Hasan Al Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin-pent) dan membacakan kepada Syaikh Jibrin -aku hadir di situ- dalam kitab tersebut ada ungkapan yang Al Banna mengatakan : “Permusuhan antara kita (muslimun) dengan Yahudi adalah bukan sebab permusuhan  agama, akan tetapi kita memerangi mereka, memusuhi mereka adalah dengan sebab tanah yang mereka duduki atau sesuatu dari hal ini”, maka Syaikh Rabi’ bertanya kepada Syaikh Jibrin ” Apa pendapatmu dengan orang yang mengatakan perkataan seperti ini ?”

Maka Syaikh Jibrin dengan tanpa pertimbangan mengatakan : “Ini kufur, ini ucapan kufur atau orang yang mengatakan ucapan ini adalah seorang yang kafir”. Maka Syaikh Rabi’ mengatakan : “Tidak ya Syaikh, kami tidak sependapat denganmu bahwa dia kafir, apakah engkau tahu bahwa dia (yang mengatakan-pent) itu  adalah Hasan Al Banna?”.

Maka dengan tiba-tiba Syaikh Jibrin mengubah sikapnya, mengeras dalam ucapannya dan majelisnya, dan berubah perangainya dan mengatakan : “Abadan abada (selama-lamanya) tidak mungkin, tidak mungkin Hasan Al Banna mengatakan ucapan ini, mungkin maksud dia adalah makna lain, mungkin…”.

Syaikh Rabi’ mengatakan : “Ini kitabnya di hadapanmu ya Syaikh?”

Syaikh Jibrin tetap pada pendapatnya dan terus- menerus di atas pendapatnya dan tidak mengalah dari pendapatnya, dan ini adalah perkara yang mengherankan seorang yang kedudukannya adalah seorang Syaikh, akan tetapi Alloh subhanahu wata’ala Dialah satu- satunya pemberi taufiq, tidak ada seorangpun yang mampu memberikan taufiq dan manfaat bagi dirinya.

Alih Bahasa : Qomarudin Abu Ukkasyah حفظه اللــــــــه

@Salafy Cirebon
✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦✦
Untuk fawaid lainnya bisa kunjungi website kami:
www.ittibaus-sunnah.net
أصحاب السنة
❂Ashhaabus Sunnah❂

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

قال الشيخ محمد بن ربيع المدخلي حفظه الله :

بسم الله الرحمن الرحيم

حضرت مجلسا في المدينة في دار إمام الجرح و التعديل حفظه الله و رعاه ، و كان في ضيافته الشيخ عبد الله الجبرين المعروف رحمه الله ، و كان الشيخ عبد الله الجبرين متضلعا في الفقه و التوحيد و غيرها من العلوم و لكن أثر عليه شباب الإخوان و الذين يسمونهوم الدعاة و التفوا حواليه و عليه ، فكان يؤيدهم و يدافع عنهم و يتعرض بالقول السلفيين و يذم الشيخ محمد أمان الجامي رحمة الله عليهما جميعا ، الشاهد كان في ضيافة إمام الجرح و التعديل فأحضر كتابا لحسن البنا ، و قرأ على الشيخ الجبرين ـ و أنا حاضر ـ عبارة يقول فيه البنا : ليس بيننا و بين اليهود عداوة دينية و إنما نحاربهم ، نعاديهم على الأراضي التي احتلوها ، أو شيئا من هذا ، و قال إمام الجرح و التعديل للشيخ الجبرين : ما رأيك في من يقول هذا الكلام ؟

فسارع الشيخ الجبرين و لم يترو و قال : هذا كفر ، هذا الكلام كفر ، أو أن قائل هذا الكلام كافر ، فقال له إمام الجرح و التعديل : لا يا شيخ ، نحن لا نوافقك على أنه كافر ، و هل تعلم أنه حسن البنا ؟

ففجأة تغير موقف الشيخ الجبرين و تنمر في كلامه و جلسته و تغير مزاجه و قال : أبدا أبدا لا يمكن ، لا يمكن يقول هذا الكلام حسن البنا لعله يقصد معنى آخر ، لعله ..

فقال له إمام الجرح و التعديل : هذا الكتاب أمامك يا شيخ !

فبقي الشيخ الجبرين على رأيه و أصر على رأيه و لم يتنازل عن رأيه ، و كان هذا أمرا عجيبا من رجل في مقام الشيخ ، و لكن الله سبحا

http://simp.ly/publish/8t4bPY

------------------------

Copyright : 1437 H - 2016 M http:// salafykolaka.net

{ Bantahan }- SEKALI LAGI ASY SYEIKH SHALEH AL FAUZAN MENDUSTAKAN KLAIM TAHZIR BELIAU TERHADAP ASY SYEIKH RABI

*SEKALI LAGI ASY SYEIKH SHALEH AL FAUZAN MENDUSTAKAN KLAIM TAHZIR BELIAU TERHADAP ASY SYEIKH RABI*
==================

✅Sungguh Allah memudahkan bagi kami pada hari selasa yang lalu 6 dzulhijjah berjumpa dengan Asy syeikh Shaleh Al fauzan di kantor beliau di kediaman Lajnah Daimah Lil ifta di Mekkah, diantara pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan kepada Asy syeikh حفظه الله adalah aku bertanya kepada beliau:

_Sebahagian orang menyandarkan kepada Anda bahwa Anda mentahzir  Asy syeikh Rabi Al madkhali dan akidahnya._

Maka beliau menjawab dengan mengatakan:
*Berita ini tidak benar... mereka berdusta....*

❗Dan ini bukanlah pertama kali yang padanya *~didustakan~* atas nama Asy syeikh Al fauzan apa yang mereka *para komplotan haddadiyah* menyandarkannya kepada beliau berupa kedustaan atas Asy syeikh Rabi.

💥Sungguh di dalam hal ini Haddadiyah berupaya *berkali-kali dan terulang-ulang dengan menyodorkan pertanyaan yang sekedarnya kepada Asy syeikh Al fauzan dan dari sanalah mendudukkannya seperti yang diinginkannya oleh hawa nafsu mereka atas Asy syeikh Rabi atau dengan mengirim beberapa surat yang tidak diketahui isinya (sebagaimana yang dilaksanakan oleh Al ghamidi yang bodoh lagi pandir) kepada Lajnah Daimah* dan mereka mengerahkan pasukan kuda dan pasukan pejalan kaki mereka dengan harapan dari mereka di dalam menjatuhkan gunung yang menjulang tinggi ini (Asy syeikh Rabi) akan tetapi mereka pada setiap kalinya kembali dengan kerugian dan kehinaan diatas langkah-langkah mereka.

Hai yang menanduk gunung yang tinggi untuk melemahkannya.... sayangilah kepalamu, janganlah engkau sayangi gunung tersebut.

_Sebab mereka tidak mampu melariskan pemikiran mereka yang menyimpang kecuali dengan cara dusta, menggabung-gabungkan ucapan dan memotongnya sebagaimana hal ini adalah kebiasaan mereka._

Kalau seandainya benar bahwa *Lajnah Daimah mentahzir Asy syeikh Rabi sebagaimana yang diklaim oleh Al ghamidi si bodoh ini niscaya Al fauzan dan Mufti menyebutkan hal itu dengan terbuka sebagaimana mereka lakukan hal ini sebelumnya kepada Al halabi, Ar rais dan selain dari keduanya.*

✊ Sungguh Asy syeikh Rabi mengajak kalian *berhukum kepada Al kitab dan as sunnah dan ucapan-ucapan para sahabat* dan beliau mempercayakan kalian terhadap ucapan para imam dari sumber-sumbernya sebagaimana yang sedang terjadi di dalam masalah pengkafiran amalan anggota tubuh akan tetapi kalian enggan kecuali bersembunyi dengan kata-kata yang keluar dari Asy syeikh Al fauzan dan Ar rajihi حفظهما الله.

Sungguh engkau memperdengarkan seandainya engkau seru orang hidup.....akan tetapi tiada hidup bagi yang engkau seru.

💥❌Kemudian setelah itu kalian pergi menyelisihi Asy syeikh Al fauzan dan Ar rajihi dan jumhur ahlussunnah di dalam masalah orang yang meninggalkan shalat!!!

*Kontradiksi yang aneh!!!*

_*Kejahatan di dalam permusuhan yang tiada tara!!*_

☝❌Maka dakwah haddadiyah adalah dakwah yang menghancurkan yang memilik prinsip takfir murni (mudah mengkafirkan) dan kaidah-kaidah khawarij bid'ah.

👉Seandainya Ahlussunnah diam dari para pemilik dakwah yang menghancurkan ini niscaya akan ada sembilan puluh sembilan ulama dan imam-imam sunnah dari kalangan orang terdahulu dan yang akan datang menjadi murjiah sebagaimana hal itu telah dikatakan oleh Asy syeikh Rabi bin Hadi Imam Al jarhu wa at ta'dil.

👉❗Al jarhu wat ta'dil yang dibenci oleh para haddadiyah dan mereka menyangka bahwa ia telah berakhir dengan meninggalnya para ahli riwayat (perowi) sedangkan mereka termasuk golongan ekstrim takfir dan tabdi dan menuduh ahlussunnah dengan murjiah!!.

Ditulis oleh:

*Abu Abdillah Habib ujabi Al jazairi.*

*🕋 Mekkah Almukarramah 06/12/1435 H*

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=147714

جديد : العلامة صالح الفوزان - مرة أخرى - يكذب دعوى تحذيره من الشيخ ربيع

قد يسر الله لنا يوم الثلاثاء الماضي السادس من ذي الحجة أن التقينا بالشيخ العلامة صالح الفوزان في مكتبه بمقر اللجنة الدائمة للإفتاء بمكة فكان من بين اﻷسئلة التي طرحتها على الشيخ حفظه الله أن سألته :
بعض الناس ينسبون إليكم أنكم تحذرون من الشيخ ربيع المدخلي و من عقيدته
فأجاب الشي
خ قائلا : " هذا الخبر غير صحيح ..يكذبون ..."

و هذه ليست المرة اﻷولى التي يكذب فيها الشيخ الفوزان ما ينسبه إليه هؤلاء الصعافقة الحدادية من افتراء على الشيخ ربيع

فلقد سعى في ذلك الحدادية مرارا و تكرارا بعرض اﻷسئلة المجردة على الشيخ الفوزان و من ثم تنزيلها - كما تهواه أنفسهم - على الشيخ ربيع أو بإرسال الرسائل التي لا يدرى محتواها ( كما فعل الغامدي الغبي البليد ) إلى اللجنة الدائمة و أجلبوا بخيلهم و رجلهم طمعا منهم في إسقاط هذا الجبل الشامخ لكنهم في كل مرة يعودون على أدراجهم خائبين مخذولين.

يا ناطح الجبل العالي ليوهنه ...أشفق على الرأس لا تشفق على الجبل

ﻷنهم لا يستطعيون أن يروجواه لأفكارهم المنحرفة إلا بالكذب و تلفيق الكلام و بتره كما هي عادتهم
فلو صح أن اللجنة الدائمة حذرت من الشيخ ربيع كما يدعيه الغامدي الغبي البليد لصرح بذلك الفوزان و المفتي كما فعلوا ذلك من قبل مع الحلبي و الريس و غيرهما .

و لقد دعاكم الشيخ ربيع إلى التحاكم إلى الكتاب و السنة و أقوال الصحابة و وثق لكم كلام اﻷئمة من مصادره كما هو الحال في مسألة تكفير عمل الجوارح لكنكم أبيتم إلا التستر بكلمات صادرة من الشيخ الفوزان و الراجحي حفظهما الله

لقد أسمعت لو ناديت حيا ...لكن لا حياة لمن تنادي

ثم بعد ذلك ذهبتم تخالفون الشيخ الفوزان و الراجحي و جمهور أهل السنة في مسألة تارك الصلاة !!!

تناقض عجيب !!!

و فجور في الخصومة لا نظير له !!

فدعوة الحدادية دعوة هدامة ذات أصول تكفيرية بحتة و قواعد خارجية محدثة

لو سكت أهل السنة عن أصحاب هذه الدعوة الهدامة لصار تسع و تسعون من علماء و أئمة السنة من السابقين و اللاحقين مرجئة كما قال ذلك الشيخ رببع بن هادي إمام الجرح و التعديل

الجرح و التعديل الذي يبغضه الحداديون و يزعمون أنه انتهى بموت أهل الرواية و هم من غلاة التكفير و التبديع و رمي أئمة السنة باﻹرجاء !!

و كتبه
أبو عبد الله حبيب عجابي الجزائري

*مكة المكرمة 06/ 12 / 1435*

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=147714

----------------------

Copyright : 1437 H - 2016 M http:// salafykolaka.net

[ Kaidah ] Jarh Wa Ta'dil

Asy-Syaikh Rabi hafizhahullah berkata di dalam Ta’liq kitab Haadil Arwaah karya Ibnul Qayyim rahimahullah kaset no. 2:

“Muhammad bin Jarir berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Mukhtar, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ka’ab bin Ujrah, dari Nabi shallallahu alaihi was sallam tentang firman Allah Ta’ala:

لِلَّذِيْنَ أَحْسَنُوْا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada balasan kebaikan (jannah) dan tambahan (melihat wajah Allah).” (QS. Yunus: 26)

Isnad ini padanya terdapat perawi yang bernama Ibnu Humaid yang diperbincangkan. Dia adalah Muhammad bin Humaid Ar-Raazy. Para ulama ahli hadits memperbincangkan keadaannya. Al-Imam Ahmad mentazkiyahnya, namun selain beliau ada pihak yang mengkritiknya, menilainya lemah dan sangat melemahkannya. Diantara yang menilainya lemah adalah Ibnu Khuzaimah rahimahullah. Beliau pernah ditanya: “Sesungguhnya Ahmad (bin Hanbal) menta’dil atau mentazkiyahnya.” Maka Ibnu Khuzaimah menjawab: “Seandainya Ahmad mengetahui seperti yang kami ketahui, tentu beliau tidak akan mentazkiyahnya.”

Ini adalah manhaj yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah dan Ahli Hadits. Yaitu bahwasanya siapa saja yang mengatahui maka dia merupakan hujjah atas orang yang tidak mengetahui. Juga bahwasanya jarh didahulukan atas ta’dil dan bahwasanya tidak ada aib dan kekurangan pada seorang imam yang mana saja yang dia mentazkiyah seseorang, lalu datang ulama lain yang semisal dengannya atau di bawahnya yang berdasarkan hujjah dan dalil menetapkan celaan pada orang yang ditazkiyah oleh imam tadi.

Tidak ada celaan dan dosa terhadap imam ini dan hal itu bukan sebagai bentuk penghinaan atau dikatakan bahwa dia orang yang menyimpang atau ucapan negatif lainnya.

Kenapa demikian?! Karena para ulama tersebut mereka berputar mengikuti ke mana hujjah dan dalil ada. Mereka tidak menginginkan kecuali kebenaran dan tidak menginginkan selain wajah Allah Azza wa Jalla. Mereka tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Tidak ada yang kemudian membantah dengan mengatakan: “Demi Allah, si fulan ini telah ditazkiyah oleh Ahmad. Jadi kenapa saya harus menjarhnya. Demi Allah, ini merupakan kesalahan.” Mereka tidak mengucapkan perkataan semacam ini, bahkan mereka berani dengan terang-terangan menampakkan kebenaran dan para ulama Ahlus Sunnah semuanya menerima dengan lapang dada dan tidak menganggap hal itu sebagai dosa atau kesalahan sama sekali.

Namun sekarang kita berada di masa yang banyak kegelapan dan kebodohan yang parah yang ahli bid’ah dan para pengekor hawa nasu telah melemparkan penilaian yang buruk terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jadi Al-Imam Ahmad adalah imam Ahlus Sunnah. Namun tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa Ibnu Warih dan Ibnu Khuzaimah serta ulama lain yang menjarh Muhammad bin Humaid yang berbeda pendapat dengan beliau berarti mereka merendahkan Al-Imam Ahmad atau suka menyelisihi beliau.

Tidak ada yang mengatakan demikian, bahkan mereka semua menerima. Jadi engkau akan menjumpai murid-murid atau shahabat Ahmad dan Asy-Syafi’iy jika ada seseorang yang dipuji oleh Ahmad dan dijarh oleh ulama lain sementara hujjah ada pada selain beliau tersebut, mereka menerima jarh pihak yang memiliki hujjah.
Demikian juga murid-murid Asy-Syafi’iy. Ketika beliau mentazkiyah Ibrahim bin Abi Yahya namun ulama selain beliau menjarhnya, mereka pun menerima jarh ini dan tidak mengatakan: “Demi Allah, beliau adalah imam kami dan demi Allah kami akan fanatik membela pendapat beliau, karena beliau telah mentazkiyah si fulan. Dan dengan fanatik buta ini kami akan menetapkan kemuliaan orang yang dijarh ini dan akan kami bela dengan alasan bahwa imam kami adalah hujjah dan dalil.” Mereka sangat jauh dari mengucapkan perkataan semacam ini.

Demikianlah mereka terdidik di atas manhaj yang baik dan penuh berkah. Dan wajib untuk meninggalkan sikap fanatik kepada siapapun orangnya, kecuali Muhammad shallallahu alaihi was sallam karena beliaulah orang yang tidak boleh dikritik dan siapapun tidak boleh menyelisihi beliau. Karena Muhammad shallallahu alaihi was sallam selalu bersama kebenaran di mana pun kebenaran itu ada.

Demikian juga para shahabat Muhammad shallallahu alaihi was sallam selalu mengikuti kebenaran ke manapun kebenaran itu berada. Adapun selain mereka maka setiap orang bisa diambil dan bisa ditolak ucapannya.”
–selesai perkataan Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah–

http://simp.ly/publish/Skf45L

-----------------------

Copyright : 1437-2016 http:// salafykolaka.net

[ Ulama ] Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali Hafidzhullah

Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali Hafidzhullah

Di antara karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada segenap hamba-Nya, senantiasa ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang tanggap terhadap kebatilan yang terdapat pada perkataan ahlul batil dan siap siaga untuk membantahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ – وَلِلَّهِ الْحَمْدُ – لَمْ يَزَلْ فِيهَا مَنْ يَتَفَطَّنُ لِمَا فِي كَلَامِ أَهْلِ الْبَاطِلِ مِنْ الْبَاطِلِ وَيَرُدُّهُ.

“Bahwasanya umat ini –walillahil hamdu– senantiasa ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang tanggap terhadap kebatilan yang terdapat pada perkataan ahlul batil dan membantahnya.” (Majmu’ Fatawa 9/233)

Di antara orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah untuk senantiasa tanggap terhadap kebatilan yang terdapat pada perkataan ahlul batil dan siap siaga untuk membantahnya adalah asy-Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdullah as-Subayyil –imam al-Masjidil Haram Makkah-rahimahullah berkata,

فإن فضيلة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي الأستاذ بالجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة من العلماء المعروفين، والدعاة المشهورين في الأوساط العلمية في المملكة العربية السعودية، وقد عرف بتمكنه في علوم السنة وغيرها من العلوم الشرعية، ولفضيلته جهود كبيرة في الدعوة إلى الله سبحانه وتعالى على منهج السلف الصالح، والدفاع عن العقيدة السلفية الصحيحة، والرد على المخالف لها من أهل البدع والأهواء بما يذكر لفضيلته فيشكر.

“Sesungguhnya fadhilatus syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali seorang Profesor di Universitas Islam Madinah tergolong ‘ulama yang terkenal dan da’i yang kesohor dalam ruang lingkup keilmuan di Kerajaan Saudi Arabia. Sungguh beliau telah dikenal akan kemapanannya di bidang ilmu as-Sunnah (hadits) dan selainnya dari berbagai disiplin ilmu agama. Beliau mempunyai jasa yang besar dalam hal dakwah di jalan Allah yang tegak di atas manhaj as-Salafush Shalih, (sebagaimana pula) mempunyai jasa besar yang patut disyukuri dalam membela aqidah salafiyah yang benar dan membantah orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid’ah wal ahwa’.”

Beliau menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk (huda) dan bersabar atas segala gangguan yang datang dari mereka. Betapa banyak orang yang tersesat tak tahu jalan yang beliau tunjuki.

Beliau membela Kitabullah dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstrimis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil.

Beliau selalu siap siaga menghadang orang-orang yang mengibarkan bendara-bendera bid’ah dan menebarkan kesesatan di tengah umat. Betapa besar jasa beliau bagi umat manusia, namun betapa jelek sikap manusia terhadap beliau.

Hal ini mengingatkan kita akan perkataan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam muqadimah kitab beliau Ar-Rad ala az-Zanadiqah wa al-Jahmiyyah,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي كُلِّ زَمَانِ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، يَدْعُونَ مَنْ ضَلَّ إِلَى الْهُدَى وَيَصْبِرُونَ مِنْهُمْ عَلَى الْأَذَى. يُحْيُونَ بِكِتَابِ اللهِ الْمَوْتَى وَيُبَصِّرُونَ بِنُورِ اللهِ أَهْلَ الْعَمَى. فَكَمْ مِنْ قَتِيلٍ لِإِبْلِيسَ قَدْ أَحْيَوْهُ، وَكَمْ مِنْ ضَالٍّ تَائِهٍ قَدْ هَدَوْهُ. فَمَا أَحْسَنَ أَثَرَهُمْ عَلَى النَّاسِ وَأَقْبَحَ أَثَرَ النَّاسِ عَلَيْهِمْ. يَنْفُونَ عَنْ كِتَابِ اللهِ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ، اَلَّذِينَ عَقَدُوا أَلْوِيَةَ الْبِدْعَةِ وَأَطْلَقُوا عِقَالَ الْفِتْنَةِ. فَهُمْ مُخْتَلِفُونَ فِي الْكِتَابِ، مُخَالِفُونَ لِلْكِتَابِ، مُجْمِعُونَ عَلَى مُفَارَقَةِ الْكِتَابِ، يَقُولُونَ عَلَى اللهِ وَفِي اللهِ وَفِي كِتَابِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، يَتَكَلَّمُونَ بِالْمُتَشَابِهِ مِنَ الْكَلَامِ، وَيَخْدَعُونَ جُهَّالَ النَّاسِ بِمَا يُشَبَّهُونَ عَلَيْهِمْ، فَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ فِتَنِ الْمُضِلِّينَ.

“Segala pujian kesempurnaan hanya milik Allah, yang telah menjadikan di setiap masa fatrah (kekosongan) dari para rasul sisa-sisa manusia dari kalangan ahli ilmu (ulama’), menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk (huda) dan bersabar atas segala gangguan yang datang dari mereka. Mereka menghidupkan orang-orang yang mati (hatinya) dengan Kitabullah dan menerangi orang-orang yang buta (mata hatinya) dengan cahaya (ilmu) yang datang dari Allah. Betapa banyak Korban iblis yang mereka hidupkan kembali,  betapa banyak pula orang yang tersesat tak tahu jalan yang mereka tunjuki. Betapa besar jasa mereka bagi umat manusia, namun betapa jelek sikap manusia terhadap mereka. Mereka membela Kitabullah dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstrimis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil, yaitu orang-orang yang mengibarkan bendara-bendera bid’ah dan melepas ikatan (menebarkan) fitnah. Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah, menyelisihinya, dan sepakat untuk menjauhinya. Mereka berbicara atas nama Allah, tentang Allah, dan tentang Kitabullah dengan tanpa ilmu. Mereka berkata dengan perkataan yang mutasyabih (samar) dan menipu orang-orang jahil (bodoh) dengan hal-hal yang menjadi syubhat bagi mereka. Maka kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah (yang ditebarkan oleh) orang-orang yang menyesatkan itu.”

♦ Nama dan Nasab Beliau

Beliau adalah asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Hamil Rayati al-Jarh wa at-Ta’dil Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi bin Muhammad Umair al-Madkhali. Al-Madkhali disandarkan kepada Kabilah al-Madakhilah, salah satu kabilah yang masyhur di wilayah Jazan yang terletak di bagian selatan Kerajaan Saudi Arabia. Al-Madakhilah termasuk salah satu dari kabilah-kabilah Bani Syubail, dan Syubail adalah keturunan Yasyjub ibn Qahthan.

♦ Tempat dan Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama al-Jaradiyah. Desa ini terletak + 3 KM di sebelah barat Kota Shamithah, dan sekarang telah masuk wilayah Shamithah). Beliau dilahirkan di penghujung tahun 1351 H (83 tahun yang lalu). Satu setengah tahun setelah kelahiran beliau, sang ayah meninggal dunia. Sehingga beliau tumbuh dan berkembang sebagai anak yatim, di bawah asuhan seorang ibu yang baik lagi mulia. Sang ibu memperhatikan beliau dengan sebenar-benarnya, mendidik beliau dengan pendidikan yang bagus, menanamkan kepada beliau akhlak yang mulia seperti kejujuran dan menjaga amanat. Sebagaimana pula senantiasa menghasung beliau untuk menunaikan shalat dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Semua itu berjalan dengan pengawasan paman beliau dari pihak ayah.

♦ Latar Belakang Pendidikan Beliau

1.) Ketika memasuki usia delapan tahun, beliau masuk di halaqah taklim di desa tempat beliau tinggal. Di antara bidang studi yang beliau pelajari adalah khath (menulis arab) dan qira’atul Qur’an. Guru beliau di bidang studi khath (menulis arab) adalah asy-Syaikh Syaiban al-‘Arisyi, al-Qadhi Ahmad bin Muhammad Jabir al-Madkhali, dan Muhammad bin Husain Makki. Sedangkan guru beliau di bidang qira’atul Qur’an adalah asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir al-Madkhali.

2.) Setelah itu beliau belajar di al-Madrasah as-Salafiyyah di Kota Shamithah. Di antara guru beliau adalah asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir al-Madkhali yang mengajar bidang studi tauhid dan tajwid. Demikian pula asy-Syaikh al-‘Alim al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki, seorang ulama’ kesohor murid senior asy-Syaikh al-Qar’awi rahimahullah yang mengajar kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nazharkarya al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

3.) Pada tahun 1376 H (1955 M), beliau masuk di al-Ma’had al-‘Ilmi di Kota Shamithah. Di ma’had tersebut, beliau belajar dari sejumlah ulama’ terkemuka, antara lain;

–          Asy-Syaikh al-‘Allamah Hafizh bin Ahmad al-Hakami rahimahullah.

–          Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Hakami rahimahullah.

–          Asy-Syaikh al-‘Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah.

–          Asy-Syaikh al-‘Allamah Dr. Muhammad Aman bin ‘Ali al-Jami rahimahullah.

–          Asy-Syaikh al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi rahimahullah.

Pada penghujung tahun 1380 H, beliau lulus darinya.

4.) Pada awal tahun 1381 H (1960 M), beliau masuk di Fakultas Syari’ah Universitas Muhammad bin Su’ud (Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud) di Kota Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Saudi Arabia. Setelah berjalan sebulan, sebulan setengah atau dua bulan, beliau mendengar bahwa di Kota Madinah berdiri Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) yang direktori oleh asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah -Mufti ‘Amm Kerajaan Saudi Arabia saat itu- dengan Wakil Rektor asy-Syaikh al-‘Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Akhirnya beliau memutuskan pindah ke Kota Madinah dan belajar di Fakultas Syari’ah Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah). Setelah menempuh masa belajar empat tahun tepatnya hingga tahun 1384 H (1963 M), beliau dinyatakan lulus dari progam S1 dengan predikat mumtaz(istimewa).

Di antara guru beliau di Fakultas Syari’ah Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) Madinah adalah,

– Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau mengajar kitab Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz di tahun pertama kuliah, kemudian diserahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad hafizhahullah untuk menggantikannya. Sebagaimana pula beliau mengajar kitab Shahih Muslim dan Tafsir Ibnu Katsir di al-Masjid an-Nabawi yang selalu diikuti oleh asy-Syaikh Rabi’hafizhahullahu.

– Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Beliau mengajar hadits dan dirasat al-asanid selama tiga tahun.

– Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad hafizhahullah. Beliau mengajar kitabBidayah al-Mujtahid selama tiga tahun dan juga Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz menggantikan asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

– Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Hafizh al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushuli an-Nahwi al-Lughawi al-Faqih Muhammad al-Amin asy-Syinqithi -penulis kitab Adhwaul Bayan– rahimahullah. Beliau mengajar tafsir dan ushul fiqih selama empat tahun.

–  Asy-Syaikh Shalih bin Husain al-Iraqi. Beliau salah seorang dosen mata kuliah aqidah.

–  Asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Abdul Ghaffar Hasan al-Hindi. Beliau mengajar ilmu hadits dan musthalah hadits.

ð  Setelah lulus dari Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) Madinah, beliau ditunjuk oleh asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sebagai pengajar di al-Ma’had ats-Tsanawi (setingkat ‘Aliyah) cabang Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) di Kota Madinah. Kemudian beliau diutus oleh asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ke India bersama asy-Syaikh Shalih bin Husain al-‘Iraqi untuk mengajar di Universitas as-Salafiyyah (al-Jami’ah as-Salafiyyah) selama tiga tahun. Di utus pula bersama beliau pada tahun kedua atau ketiga asy-Syaikh Hadi bin Ahmad Thalibi. Ketika datang masa liburan, beliau pulang berlibur ke Saudi Arabia. Dan, ketika selesai masa liburan tersebut beliau kembali ke India guna menjalankan tugas mengajar kembali. Dari sini, akan terjawab sebuah pertanyaan, “Mengapa jeda antara kelulusan beliau dari program S1 dengan program S2 cukup jauh?”

5.) Setelah sekian tahun mengajar, baik di al-Ma’had ats-Tsanawi cabang Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) Madinah maupun di Universitas as-Salafiyyah (al-Jami’ah as-Salafiyyah) India, akhirnya beliau kembali melanjutkan belajar untuk menempuh program pascasarjana S2 di Universitas King ‘Abdul ‘Aziz (Jami’ah al-Malik Abdil Aziz) cabang Makkah al-Mukarramah -sekarang bernama Universitas Ummul Qura-. Beliau lulus dari program S2 ini pada tahun 1397 H dengan sebuah desertasi yang terkenal dengan judul“Bainal Imamain Muslim wa ad-Daraquthni.”                

6.) Setelah itu beliau melanjutkan ke program pascasarjana S3 di universitas yang sama. Pada tahun 1400 H beliau dinyatakan lulus dari program doktoral tersebut dengan predikat mumtaz (istimewa). Desertasi beliau ketika itu adalah tahqiq kitab “an-Nukat ‘ala Kitab Ibn ash-Shalah” karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalanirahimahullah.

7.) Setelah selesai dari program doktoral, beliau kembali ke Kota Madinah untuk mengajar di Fakultas Hadits Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah). Beliau mengajar mata kuliah hadits dan berbagai cabang ilmunya. Sebagaimana pula beliau berkali-kali menjabat kepala bagian as-Sunnah (ra’is qism as-Sunnah) di program pascasarjana. Dari sisi gelar akademis, beliau telah menyandang gelar Profesor Doktor, bahkan beliau telah sampai pada tingkatan “Ustadz Kursi” yaitu guru besar di bidang hadits dan berbagai cabang ilmunya.

♦ Kedudukan Beliau di Sisi Para ‘Ulama Sunnah

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
الشيخ ربيع من خيرة أهل السنّة والجماعة، ومعروف أنّه من أهل السنّة، ومعروف كتاباته ومقالاته

“Asy-Syaikh Rabi’ tergolong yang terbaik dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, terkenal dari kalangan Ahlus Sunnah, terkenal pula karya-karya tulis dan artikel-artikelnya.”

بخصوص صاحبي الفضيلة الشيخ محمد أمان الجامي والشيخ ربيع بن هادي المدخلي، كلاهما من أهل السنة، ومعروفان لدي بالعلم والفضل والعقيدة الصالحة

“Terkhusus kedua pemilik keutamaan asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami dan asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, keduanya termasuk dari Ahlus Sunnah, keduanya terkenal di sisiku dengan keilmuan, keutamaan, dan aqidah yang benar.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata,
… فأريد أن أقول إن الذي رأيته في كتابات الشيخ الدكتور ربيع أنها مفيدة ولا أذكر أني رأيت له خطأ، وخروجاً عن المنهج الذي نحن نلتقي معه ويلتقي معنا فيه.

“ …Maka aku ingin katakan, sesungguhnya yang aku lihat dalam berbagai karya asy-Syaikh DR. Rabi’ adalah karya-karya yang bermanfaat, dan aku tidak ingat bahwa aku mendapati satu kesalahan padanya, atau (sebuah prinsip) yang telah keluar dari manhaj yang kami bertemu dengannya dan dia bertemu dengan kami padanya.”

وباختصار أقول: إن حامل راية الجرح والتعديل اليوم في العصر الحاضر وبحق هو أخونا الدكتور ربيع، والذين يردون عليه لا يردون عليه بعلم أبداً، والعلم معه

“Dan secara ringkas aku katakan, sesungguhnya pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil pada hari ini di zaman ini dan dengan sebenar-benarnya adalah saudara kami Doktor Rabi’. Sementara orang-orang yang membantahnya, tidaklah mereka membantahnya di atas bimbingan ilmu sama sekali, dan ilmu (kebenaran) bersama beliau (asy-Syaikh Rabi’).”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
والشيخ ربيع من علماء السنة، ومن أهل الخير، وعقيدته سليمة، ومنهجه قويم …

“Asy-Syaikh Rabi’ termasuk dari ulama’ sunnah, dari ahlul khair (kalangan  orang baik), akidahnya selamat dari penyimpangan, dan manhajnya lurus…”

أما بالنسبة للشيخ ربيع فأنا لا أعلم عنه إلا خيراً والرجل صاحب سنة وصاحب حديث.

“Adapun terkait dengan asy-Syaikh Rabi’, maka aku tidak mengetahui tentang beliau kecuali kebaikan, dan beliau adalah shahib sunnah (‘ulama sunnah) dan shahib hadits (pakar di bidang hadits).”

…أنه على طريق السلف في منهجه ولاسيما في تحقيق التوحيد ومنابذة من يضاده،

“…bahwa beliau (yakni asy-Syaikh Rabi’-pen.) berada di atas jalan as-Salaf dalam hal manhajnya, terlebih dalam hal perealisasian tauhid dan penentangan terhadap orang-orang yang berlawanan dengannya.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah berkata,
النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم يقول: ((لا تزال طائفة من أمّتي ظاهرين على الحقّ لا يضرّهم من خذلهم حتّى يأتي أمر الله وهم كذلك))، فمن هؤلاء العلماء الشيخ ابن باز حفظه الله، والشيخ الألباني حفظه الله، والشيخ صالح الفوزان، والشيخ ربيع بن هادي، والشيخ عبدالمحسن العباد حفظهم الله.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda, ‘Akan selalu ada sekelompok kecil dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak akan mampu memudharatkan mereka orang-orang yang merendahkan mereka, hingga datang keputusan Allah dan mereka teta p (dalam kondisi) seperti itu.’ Di antara para ‘ulama (yang masuk dalam hadits di atas, pen.) adalah asy-Syaikh Ibn Baz hafizhahullah, asy-Syaikh al-Albani hafizhahullah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahumullah.”

أمّا الذين أنصح بالأخذ عنهم والذين أعرفهم فهم الشيخ: عبدالعزيز بن باز حفظه الله، والشيخ محمد بن صالح بن عثيمين حفظه الله، والشيخ ربيع بن هادي حفظه الله، والشيخ عبدالمحسن العباد حفظه الله، والشيخ صالح الفوزان حفظه الله …

“Adapun (para ‘ulama Saudi Arabia, pen.) yang aku nasehatkan untuk menimba ilmu dari mereka dan aku mengenal mereka adalah asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz hafizhahullah, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin hafizhahullah, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbadhafizhahullah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah….”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdullah as-Subayyil –imam al-Masjidil Haram Makkah-rahimahullah berkata,
فإن فضيلة الشيخ ربيع بن هادي المدخلي الأستاذ بالجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة من العلماء المعروفين، والدعاة المشهورين في الأوساط العلمية في المملكة العربية السعودية، وقد عرف بتمكنه في علوم السنة وغيرها من العلوم الشرعية، ولفضيلته جهود كبيرة في الدعوة إلى الله سبحانه وتعالى على منهج السلف الصالح، والدفاع عن العقيدة السلفية الصحيحة، والرد على المخالف لها من أهل البدع والأهواء بما يذكر لفضيلته فيشكر.

“Sesungguhnya fadhilatus syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali seorang Profesor di Universitas Islam Madinah tergolong ‘ulama yang terkenal dan da’i yang kesohor dalam ruang lingkup keilmuan di Kerajaan Saudi Arabia. Sungguh beliau telah dikenal akan kemapanannya di bidang ilmu as-Sunnah (hadits) dan selainnya dari berbagai disiplin ilmu agama. Beliau mempunyai jasa yang besar dalam hal dakwah di jalan Allah yang tegak di atas manhaj as-Salafush Shalih, (sebagaimana pula) mempunyai jasa besar yang patut disyukuri dalam membela aqidah salafiyah yang benar dan membantah orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid’ah wal ahwa’.”

Mungkin saja di antara pembaca ada yang berseloroh, “Para ‘ulama tersebut kan sudah wafat, tentunya mereka tidak tahu perkembangan terakhir tentang asy-Syaikh Rabi’, sehingga perkataan mereka itu tidak bisa dijadikan dasar lagi. Coba sebutkan pujian para ‘ulama terkemuka yang masih hidup saat ini!”

Baiklah, sebelum saya menyebutkan pujian para ‘ulama sunnah terkemuka yang masih hidup saat ini terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu tidaklah kematian seorang ‘ulama menjadikan pujian yang pernah dia berikan terhadap seseorang seketika itu juga gugur. Pujian itu akan terus berlaku selama tidak tampak pada seorang yang dipuji tersebut hal-hal yang membatalkannya. Demikianlah hakikatnya dengan asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah, pujian dari para ‘ulama yang telah wafat tersebut tidaklah gugur seketika dengan wafatnya mereka, karena tidak didapati -sejauh yang kami ketahui dan yakini- hal-hal yang membatalkannya. Apabila pola pikir si penanya tersebut diterapkan secara pukul rata, maka akan gugurlah seluruh pujian yang pernah dikeluarkan oleh para ‘ulama terhadap seseorang seiring dengan kematian mereka, dan ini menafikan sikap adil dan hikmah.

Adapun pujian para ‘ulama terkemuka yang masih hidup saat ini terhadap asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullahmaka cukup banyak, di antaranya adalah sebagai berikut,

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,
كذلك من العلماء البارزين الذين لهم قدم في الدعوة، فضيلة الشيخ عبدالمحسن العباد، فضيلة الشيخ ربيع هادي، كذلك فضيلة الشيخ صالح السحيمي، كذلك فضيلة الشيخ محمد أمان الجامي، إن هؤلاء لهم جهود في الدعوة والإخلاص، والرد على من يريدون الإنحراف بالدعوة عن مسارها الصحيح، سواء عن قصد أو عن غير قصد، هؤلاء لهم تجارب ولهم خبرة ولهم سبر للأقوال ومعرفة الصحيح من السقيم، فيجب أن تُروَّج أشرطتهم ودروسهم وأن ينتفع بها؛ لأن فيها فائدة كبيرة للمسلمين.

“Demikian pula, di antara para ulama’ ternama yang mempunyai peran besar dalam dakwah ini adalah Fadhilatusy Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad, Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadi, Fadhilatusy Syaikh Shalih as-Suhaimi, dan Fadhilatusy Syaikh Muhammad Aman al-Jami. Sesungguhnya mereka mempunyai peran besar dalam hal dakwah dan keikhlasan, serta membantah siapa saja yang ingin memalingkan dakwah dari jalannya yang benar, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Mereka adalah orang-orang yang teruji, berpengalaman, dan mempunyai keahlian untuk mengukur (menilai) perkataan-perkataan, serta membedakan antara yang benar dengan yang salah. Maka kaset-kaset dan pelajaran-pelajaran mereka wajib dipromosikan dan diambil manfaat darinya, karena padanya terdapat faedah yang besar bagi kaum muslimin.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Banna hafizhahullah ketika ditanya, “Apakah asy-Syaikh Rabi’ termasuk dari kibarul ‘ulama?” maka beliau berkata,
من في هذا العصر وما قبله يعرف حقيقة جلّ الدعاة مثله؟! من؟ ويعرف بالدليل والبرهان، لا يتكلم عن أحد إلا بالدليل، ولهذا أنا أقول عن ربيع هادي كيحيى بن معين في هذا العصر، أنا أقول إنّ ربيع هادي يحيى بن معين هذا الزمان … وأعرف النّاس بالرجال بالدليل والبرهان الشيخ ربيع هادي –الله يحفظه-، ويحفظ عليه عقله وحافظته … فجزاه الله خيراً، وثبّته الله، وأبقاه حتى يفنّد الذين يلبسون ثوب السلفيّة ومحاربتها، نسأل الله أن يبين حالهم ويفضحهم ويكفينا شرّهم.
“Siapakah di masa ini dan sebelumnya yang seperti beliau dalam hal mengetahui hakikat mayoritas para da’i?! Siapa? Dan mengetahui dengan dalil dan bukti, tidak berbicara tentang seseorang kecuali dengan dalil. Oleh karena itu aku katakan tentang Rabi’ bin Hadi bahwa beliau di masa ini seperti Yahya bin Ma’in, aku katakan (sekali lagi, pen.) sesungguhnya Rabi’ bin Hadi adalah Yahya bin Ma’in di masa ini… dan orang yang paling mengetahui tentang rijal (maksudnya para da’i dan yang semisalnya, pen.) dengan dalil dan bukti adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah menjaga beliau, menjaga akal dan kekuatan daya ingat beliau… Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, semoga Allah kokohkan beliau dan melanggengkan keberadaan beliau sehingga dapat memberantas orang-orang yang memakai baju salafiyah namun hakikatnya memeranginya. Semoga Allah menampakkan kondisi mereka yang sebenarnya, membongkar mereka, dan melindungi kita dari kejahatan mereka.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Ubaid bin ‘Abdullah al-Jabiri hafizhahullah berkata,
زكاه سماحة الإمام الوالد العلامة الأثري الفقيه الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله، وزكاه الإمام الفقيه المجتهد العلامة الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله، وزكاه الإمام المحدث في هذا العصر بلا نزاع الإمام ناصر رحمه الله ووصفه بأنه حامل لواء الجرح والتعديل في هذا العصر، وراية الشيخ ربيع التي رفعها جهاداً عن أهل السنة وذباً عنها وعن أهلها وهي شوكة في صدور المبتدعة حتى الساعة -ولله الحمد- ما هانت وما لانت وما انتكست
“(Asy-Syaikh Rabi’) telah direkomendasi oleh samahatul imam al-Walid al-‘Allamah al-Atsari al-Faqih asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, telah direkomendasi oleh al-Imam al-Faqih al-Mujtahid al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin rahimahullah, dan telah direkomendasi pula oleh al-Imam al-Muhaddits di masa ini -tanpa diragukan- al-Imam Nashir (maksudnya asy-Syaikh al-Albani, pen.) rahimahullah, dan beliau menggelarinya dengan “Pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil di masa ini”. Dan, bendera asy-Syaikh Rabi’ yang beliau kibarkan sebagai jihad dari Ahlus Sunnah dan pembelaan terhadap (manhaj)nya dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya merupakan duri di dada-dada ahlul bid’ah, hingga saat ini –walillahil hamd– bendera itu tidak melemah, tidak goyah, dan tidak tumbang.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata,
وإنّني لأؤكد لمحمد سرور وأعوانه أنّه إذا لم يكن الشيخ ربيع بن هادي المدخلي ومشايخه وزملاؤه وتلاميذه على منهج السلف، وأتباع أهل الحديث والأثر، فلا أدري عن المقصود بالسلفية والسلفيين.

“Sungguh, aku benar-benar tegaskan kepada Muhammad Surur (gembong sururi, pen.) dan para pembelanya, bahwasanya jika asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, guru-guru beliau, kawan-kawan beliau, dan murid-murid beliau tidak berada di atas manhaj salaf dan bukan pengikut ahlul hadits wal atsar maka aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan as-Salafiyyah dan as-salafiyyin!”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah berkata,
وهذا الجهد العظيم الذي قدمه فضيلة الشيخ ربيع -حفظه الله- هو واحد من الإسهامات الكثيرة التي قام بها لنصرة الدين والذب عن السنة والدفاع عن العقيدة وكشف زيف أهل البدع والأهواء، بأسلوب علمي رصين، ومنهج متوازن يتضح ذلك من خلال تلك المؤلفات القيمة والمحاضرات النافعة واهتمامه بالشباب وتوجيههم إلى المنهج الحق وقضاء كل وقته في خدمة العلم وطلابه مع مالاقاه من أذى خصوصاً من تلك الجماعات الحزبية الغالية التي استهدفت العلماء وطلاب العلم والدعاة السلفيين بالتشويه والإشاعات الباطلة والكذب والتزوير والتدليس وتحريف الكلام عن مواضعه.

وأقول لهؤلاء وأمثالهم :

   لا يضر البحر أمسى زاخراً      أن رمى فيه غلام بحجر

]فأما الزبد فيذهب جفاء، وأما ما ينفع الناس فيمكث في الأرض[.

‘’Usaha agung yang dipersembahkan oleh Fadhilatusy Syaikh Rabi’ hafizhahullah ini adalah salah satu dari sumbangsih beliau yang cukup banyak di dalam membela agama, as-Sunnah, dan aqidah, serta membongkar kepalsuan ahlul bid’ah dan ahwa’, dengan uslub (cara) yang ilmiah lagi kokoh dan manhaj yang adil. Hal itu nampak jelas dari karya-karya tulis (beliau), ceramah-ceramah (beliau) yang bermanfaat, kepedulian beliau yang besar terhadap para pemuda dengan senantiasa membimbing mereka kepada manhaj yang haq, dan menghabiskan segenap waktu beliau untuk berkhidmat kepada ilmu dan para penuntut ilmu, seiring dengan adanya gangguan yang beliau dapatkan terutama dari kelompok-kelompok hizbiyah yang ekstrim, yang membidik para ulama’, para penuntut ilmu, dan para da’i salafy dengan pencemaran nama baik, isu-isu batil, kedustaan, pemalsuan, penipuan, dan penyelewengan ucapan dari maksud yang sebenarnya. Maka aku katakan kepada mereka dan yang semisal dengan mereka,

Tidaklah samudra yang telah pasang airnya menjadi terganggu
  Oleh anak kecil yang melempar batu padanya

‘Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi’.”

Demikianlah diantara perkataan dan persaksian para ‘ulama sunnah zaman ini, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat tentang asy-Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Agar lebih memudahkan para pembaca dalam memahami dan mengingatnya, berikut ini saya buatkan kesimpulannya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran.

1)  Asy-Syaikh Rabi’ termasuk yang terbaik dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahkan termasuk dari ‘ulamanya yang menjadi rujukan utama, karena telah dikenal akan keutamaan dan kemapanannya di bidang ilmu as-Sunnah (hadits) dan selainnya dari berbagai disiplin ilmu agama.

2) Asy-Syaikh Rabi’ termasuk dari ahlul khair (kalangan orang baik) yang manhajnya lurus dan aqidahnya selamat dari penyimpangan. Beliau berada di atas jalan as-Salaf dalam hal manhajnya, terlebih dalam hal perealisasian tauhid dan penentangan terhadap orang-orang yang berlawanan dengannya. Beliau sangat peduli terhadap para pemuda dengan senantiasa membimbing mereka kepada manhaj yang haq. Menghabiskan segenap waktu untuk berkhidmat kepada ilmu dan para penuntut ilmu.

3) Asy-Syaikh Rabi’ termasuk ulama’ ternama yang mempunyai jasa besar dalam hal dakwah di jalan Allah yang tegak di atas manhaj as-Salafush Shalih, dan mempunyai jasa besar yang patut disyukuri dalam membela aqidah salafiyah yang benar dan membantah orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid’ah wal ahwa’ dan siapa saja yang ingin memalingkan dakwah dari jalannya yang benar, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja.

4) Asy-Syaikh Rabi’ termasuk ulama’ yang teruji, berpengalaman, dan mempunyai keahlian untuk mengukur (menilai) perkataan-perkataan, serta membedakan antara yang benar dengan yang salah. Bahkan, termasuk yang paling mengetahui hakikat mayoritas para da’i dengan dalil dan bukti. Karena itu beliau meraih gelar “Pembawa bendera al-Jarh wa at-Ta’dil pada hari ini di zaman ini dan dengan sebenar-benarnya.” Dan juga gelar “Yahya bin Ma’in di masa ini.”

5) Asy-Syaikh Rabi’ mempunyai berbagai karya tulis, artikel, dan ceramah yang terkenal dan bermanfaat. Dengannya, beliau membela agama, as-Sunnah, dan aqidah, serta membongkar kepalsuan ahlul bid’ah dan ahwa’, dengan uslub (cara) yang ilmiah lagi kokoh dan manhaj yang adil.

Ditulis oleh Ruwaifi’ bin Sulaimi al-Atsari

http://simp.ly/publish/6CfvWG

http://dammajhabibah.net/2013/11/17/mengenal-lebih-dekat-al-allamah-rabi-al-madkhali-2/
-------------------------------
Copyright : 1437 H - 2016 M http://salafykolaka.net

Minggu, 29 Mei 2016

{ Audio }- “PENTINGNYA THOLABUL ‘ILMI“ Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالى


{Audio}- “PENTINGNYA THOLABUL ‘ILMI“ Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالى

Kajian Islam Ilmiyyah Tangerang

Jum’at, 20 Sya’ban 1437 H / 27 Mei 2016M

Masjid Al Muhajirin Tigaraksa – Tangerang

Pemateri : Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالى

Download Audio: Pentingnya Tholabul ‘Ilmi

Copyrigth: 1437 H- 2016 H http://salafykolaka.net